Minggu, 08 Oktober 2017

Lactacyd Baby, Sahabat Baik Bagi Bayi Indonesia





Assalamualaikum Mommy Syantik, 

Jika melihat kembali album foto Kakak dan Adek di masa batita nya rasanya kangen deh bisa peluk-peluk, cium-cium sesering mungkin. Rindu rasanya digelendotin anak-anak di mana aja saya berada. 

Lantas gadget pun menjadi salah satu alternatif teman bermain. Meski benar-benar saya batasi penggunaannya, saya sering ngerasa kesepian lho, kalau anak-anak pegang gadget setelah pulang sekolah, di waktu yang saya ijinkan. Kangen celoteh riang mereka, atau suara mereka berselisih, sejurus kemudian rukun kembali.

Sekarang mah boro-boro. Masih mendinglah si Kakak masih sering manja-manjaan, kalau tiduran mau dipeluk-pelukin sambil ngobrol ngobril. Atau jika diantar sekolah masih mau cipika cipiki. Lha si Adek?

Peluk-peluk ibu seringnya karena pengen sesuatu, modusin aja peluknya. Cium-cium juga mulai jarang. Alasannya Adek sudah bukan anak-anak lagi. Apalagi kalau pas dianterin ke sekolah. 

“Emoh ah ... Ada CCTV nya tuh. Malu ketahuan.”

Selalu begitu alasannya. Jadi geregetan ih. Anak-anak kok tumbuhnya cepet amat ya? Tahu-tahu tahun ajaran depan si Kakak dan Adek sama-sama ganti warna seragam.

Ketika peran ibu sudah berganti menjadi sahabat bagi anak, ada masa-masa dimana saya merindukan menyiapkan segala sesuatu bagi anak-anak sejak mereka bangun tidur sampai tidur lagi. Tak dipungkiri, hal itu melelahkan, bahkan sering kali merasa kurang waktu untuk diri sendiri, namun jika melihat mereka tumbuh sehat dan cerdas, segala perasaan negatif pun sirna sudah.



Alhamdulillah, anak-anak tumbuh sehat, tanpa banyak keluhan yang berarti. Beda banget dengan masa kecil saya yang sakit-sakitan sampai saya menginjak usia remaja. Wajarlah yang namanya anak-anak kena flu. Meski anak-anak sudah beranjak remaja, saya masih tetap mengingat apa saja yang membuat mereka terganggu, salah satunya adalah alergi. 

Saya pembawa gen alergi pada anak-anak. Sejak kecil ada beberapa situasi dan makanan yang lebih baik saya hindari. Cuaca yang ekstrim, baik panas maupun dingin, debu, beberapa jenis makanan yang berasal dari laut, maupun beberapa jenis obat-obatan. Efeknya tentu saja bentol-bentol merah di sekujur tubuh, bahkan bisa mengakibatkan bengkak. Dan pernah juga sampai mengakibatkan saya tak sadarkan diri. 

Kakak dan Adek pun sejak kecil punya alergi tersendiri. Kakak dan Adek tidak bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG ataupun zat adiktif lain ketika mereka masih anak-anak. Jika mereka diam-diam makan mi instan, jelly, atau minum minuman yang mudah dibeli di warung pun malamnya pasti batuk dan muntah-muntah. 

Alergi Kakak tak hanya makanan, namun debu pun bisa langsung mengakibatkan kulitnya memerah dan gatal. Kalau dulu sih saya hanya mengolesinya dengan bedak gatal yang ditemukan di pasaran. Namun hal itu tak juga efektif untuk Kakak. Semakin lama alergi terhadap debu dan situasi lain makin berkurang. Namun prosesnya memang lama, sampai si Kakak remaja. 

Gangguan Kulit pada Bayi


Ngomongin tentang kulit bayi, jadi ingat pernah membaca sebuah artikel tentang gangguan kulit yang sering dialami oleh bayi. Di tahun pertama pertumbuhannya seorang bayi akan sangat rentan terhadap gangguan. Hal ini diakibatkan oleh lapisan kulit bayi yang belum berkembang sempurna. Untuk mencapai fungsi efektif maka diperlukan waktu epidermis kulit untuk berfungsi secara efektif satu tahun lagi.

Seringnya warna kemerahan dan peradangan pada kulit adalah salah satu gejala dari reaksi alergi pada tubuh bayi. Ada beberapa jenis penyakit kulit yang biasa dialami oleh bayi:

1. Intertrigo
Intertrigo biasa dialami oleh bayi yang gemuk. Gangguan ini merupakan suatu peradangan di lipatan tubuh. Biasanya terletak di paha bagian dalam, ketiak, dan bagian bawah payudara atau perut. Lipatan tersebut membuat kulit tampak merah, gatal dan menyebabkan rasa sakit bila terjadi gesekan. Hal ini disebabkan oleh lembab yang berlebihan pada lipatan bayi dan tidak pernah mendapatkan udara di lipatan tersebut.

2. Milliaria 
Milliaria lebih dikenal dengan biang keringat. Milliaria ini biasanya terdapat pada leher, wajah, punggung, atau pantat bayi. Biang keringat ditandai dengan kulit kemerahan disertai oleh rasa gatal dan gelembung-gelembung kecil berair pada kulit mengakibatkan bayi menjadi rewel. Cuaca panas, pakaian yang ketat, serta aktivitas bayi yang tinggi dapat memicu biang keringat. Untuk menghindarinya maka bayi diberikan pakaian yang longgar dan berbahan katun sehingga menyerap keringat

3. Seborrhea 
Seborrhea adalah peradangan pada kulit bagian atas, yang menimbulkan sisik pada kulit kepala, wajah, kadang pada bagian tubuh lainnya seperti belakang telinga, leher, pipi, dan dada. Di kulit kepala, seborrhea ini nampak seperti ketombe. Biasanya hal ini dialami oleh bayi di bawah usia 6 bulan.Untuk mengurangi gosokkan minyak zaitun atau baby oil pada kulit kepala bayi, kemudian sikat dengan lembut.

4. Eksim 
Gangguan kulit ini berupa radang kronik berulang, gatal, hipersensitif dan merupakan faktor genetik. Gangguan ini paling banyak diderita bayi sebelum usia lima tahun. Belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun faktor genetik, kimiawi, imunologi atau dari luar seperti lingkungan dan faktor alergen diduga sebagai pemicu. Ada baiknya berkonsultasi dengan dokter jika pencegahan standar seperti menggunakan lotion atau krim pelembab sudah dilakukan dan mencegah terjadinya infeksi.

5. Dermatitis kontak 
Dermatitis kontak adalah inflamasi pada kulit yang terjadi karena kulit telah terpapar oleh bahan yang mengiritasi atau menyebabkan reaksi alergi. Dermatitis kontak akan menyebabkan ruam yang besar, gatal dan rasa terbakar. Dermatitis kontak bila terjadi di seluruh tubuh bayi, maka sabun atau deterjen mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Jika dada dan lengan yang terkena maka bisa jadi disebabkan oleh baju yang kotor. Untuk menghindarinya adalah mengurangi atau tidak sama sekali menggunakan bahan yang membuat iritasi. 


Meet my nephew, Attar


Melihat Kakak dan Adek berbakat alergi, saya pun jadi lebih berhati-hati sama keponakan-keponakan saya. Salah satu keponakan saya sudah terdekteksi alergi terhadap makanan ber MSG, jadi sudah sejak awal dijauhkan dari makanan yang mengandung zat adiktif. Nah, yang sekarang sepertinya kulitnya sensitif adalah Attar, keponakan saya yang umurnya masih 1,5 tahun. Dia tak bisa sembarangan memakai popok sekali pakai. Hanya menggunakan merk tertentu saja yang membuatnya nyaman dan tak menimbulkan ruam di pantat dan sekitar perut. 

Tentu saja ada di saat-saat tertentu merk tersebut kosong di pasaran, dan tentunya orang tua Attar menggunakan popok sekali pakai merk lain. Nah, jika menggunakan merk lain, orang tua Attar tentunya sudah menyiapkan sesuatu untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya ruam.

Attar dan Tanah



Attar tinggal di sebuah perumahan di Lampung yang tak punya area bermain. Ia jarang bersentuhan dengan tanah karena lahan yang terbatas di rumah, dan di luar rumah sudah jalan aspal. Makanya dia excited banget waktu mudik mainan air dan tanah. Tentunya hal itu melatih motorik halus dan kasarnya. 

Mudik memberikan kesempatan bagi Attar dan ponakan-ponakan saya yang lain untuk bereksplorasi. Di sekitar rumah masih banyak tumbuhan, bunga, juga hewan meski tetangga yang memelihara seperti kucing, ayam, serta kambing. Tak dipungkiri, setelah bermain di luar rumah mereka akan kotor maupun berkeringat, dan tentunya tanpa disadari banyak kuman yang bertebaran di sekitar tubuh mereka. 


Attar dan air


Attar sangat suka bermain air. Apalagi kalau ke pantai. Betahnya nggak kira-kira. Mandi saja butuh waktu lama sampai dia merasa puas. Di rumahnya, maupun di rumah saya, kebutuhan air tak lagi sumur, melainkan menggunakan air dari PDAM. Jika musim hujan tiba, air biasanya keruh. Khawatir aja kalau air keruh mengandung bakteri. 

Orang tuanya sih tenang-tenang saja. Sepertinya mereka sudah punya produk yang diandalkan untuk mendukung kesehatan dan kebersihan anak-anak. Selidik punya selidik, ternyata produk ini yang digunakan oleh adik saya aka bunda Attar untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulitnya. Apakah itu? 

Namanya Lactacyd Baby



Apa yang membuat Bunda Attar menggunakan Lactacyd Baby?


1. Lactacyd Baby terbuat dari bahan alami yang aman untuk kulit bayi
#LactacydBaby mengandung ekstrak susu (lactic acid dan Lactoserum) yang dapat merawat, membersihkan dan menjaga kulit bayi tetap bersih dari bakteri jahat. Aroma khasnya berasal dari aroma jeruk yang alami sehingga baunya segar, cerah dan lembut. Mungkin para ibu sangat menyukai aroma parfum bayi yang lembut. Namun jangan lupa, parfum pun bisa menjadi bahan iritan bagi kulit bayi. 

2. Teruji klinis dan terdaftar di BPOM
Lactacyd Baby sudah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan dengan NA 18120700294. Tentunya membuat para orang tua makin yakin akan keamanan sebuah produk karena sudah diuji oleh badan pemerintah yang kompeten. Hal ini membuat kepercayaan pada sebuah produk makin tinggi. 

3. Cara pemakaian yang Praktis
  • Untuk memandikan bayi encerkan 3-4 sendok penuh dalam wadah mandi. Mandikan bayi seperti biasa, gosok dengan lembut. Lantas dibilas dengan seksama.
  • Untuk membersihkan wajah dan perawatan kulit gunakan seperti menggunakan sabun cair. 
  • Untuk merawat kulit kepala gunakan seperti memakai shampoo.
Jangan lupa untuk mengocok Lactacyd Baby sebelum digunakan.

4. Mudah didapat
Lactacyd Baby sangat mudah didapat di Apotik, Supermarket, Minimarket serta Online shop.

5. Harga terjangkau
Lactacyd Baby terdiri dari beberapa ukuran. Ukuran terkecil dari #BabySkinExpert ini adalah 60 ml dengan harga kisaran Rp25.000, 00 tentu saja tak memberatkan bagi kantong kita para orang tua.

6. Diproduksi oleh perusahaan ternama di dunia 
Lactacyd Baby diproduksi oleh PT Pharma Health Care yang telah mendapatkan lisensi dari Sanofi Winthrop Industrie Paris. Sanofi merupakan salah satu dari lima perusahaan farmasi terbesar di dunia.
Sanofi berdiri di Indonesia dari tahun 1969, seungga sudah terpercaya berpuluh-puluh tahun khususnya di bidang pelayanan kesehatan yang inovatif.

Saya percaya, pilihan bunda Attar tentunya yang terbaik untuk buah hatinya. Setuju banget nih kalau Lactacyd baby menjadi sahabat baik bagi bayi di Indonesia. Bagaimana dengan anda?













11 komentar:

  1. Reviewnya lengkap deh, Mba Irfa. Aku jd pingin nyoba buat anak keduaku. Kadang kalau habis main dan kena terik matahari, kulit punggungnya suka ruam merah2. Biasanya cuma kukasih bedak aja sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa... Aku pun mbak, dulu belum ada si sahabat baik ini buat anak-anakku

      Hapus
  2. Wah.. most have item nih ya si lactacyd baby. Satu produk banyak fungsinya. Makasih mbak sdh share.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sami2 mb, terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  3. Setujuuu.. Cocok banget nih jadi persediaan ibu yg hidup di negeri tropis begini :)

    BalasHapus
  4. Makasih reviewnya mba Irfa, noted mba..

    BalasHapus
  5. Eksim, diagnosa yg pernah diberikan utk salah satu anak kami Mbak krn di salah satu bagian kakinya mengalami gatal2 dan berulang di sekitar situ. Sering kambuh, sdh konsultasi ke dokter kulit, dan hasilnya diagnosanya beda-beda.

    BalasHapus
  6. Waa harganya friendly banget yaaa <3

    BalasHapus
  7. yeay Mbak Irfa ngeblog lagi. kalau dengar ibu-ibu yang anaknya sudah besar pada bilang merindukan saat mereka kecil tuh rasanya gimana gitu. hehe. lactacyd emg recomended,Sara alergian juga pakai ini lho

    BalasHapus
  8. Aku juga suka kepanasan hingga alergi parah, sayang adanya lactacyd buat dewasa yang feminime, tapi lactacyd baby aku rekomendasikan kepada keponakanku 😊

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih