Kamis, 28 September 2017

Saat Pertama Kali Patah Hati



Menjawab tantangan Mbak DiniRahmawati serta Mbak Maritaningtyas tentang kali pertama, yang terbersit di benak saya adalah jatuh cinta. Siapapun pasti pernah merasakan tumbuhnya bunga-bunga di hati dan sekian banyak modus yang lantas hadir hanya untuk mencoba dekat atau sekedar menatap. Baru saja terpikir di WA grup Mbak Wahyu ternyata sudah menghadirkan cerita manis tentang seseorang yang pertama kali mengisi hati. Oke. Coret. Namun tak lama kemudian saya berpikir tentang hal yang berkebalikan dengan jatuh cinta. Patah hati.

Buat saya, seseorang yang mampu membuat kita patah hati adalah ia yang telah memberikan rasa sakit dibalik banyaknya kenangan manis dan perasaan yang indah di hati. Banyak hal yang menetap lantas sulit untuk dilupakan. Butuh perjuangan saat kita memutuskan untuk berdamai dengan hati. Bukan hanya sekedar naksir, suka, atau ngegebet jika tak sesuai dengan ekspektasi lantas mudah untuk move on. Dan saya, kok ya pernah ngerasa patah hati pertama kali di masa seragam biru putih.
Di masa seragam biru putih itu, saya termasuk anak yang mudah naksir, namun cepet juga ngelupain. Apalagi kalau sudah bosan atau ilfil. Easy come easy go. Pokoknya hidup itu dibikin hepi aja. Mikir nilai sekolah aja enggak. Agak congkak dengan prestasi sekolah yang stabil bagusnya hahaha ... (Sombong syekali)


Dia adik kelas saya. Kami sudah saling mengenal sejak TK. Keluarga kami pun bersahabat. Apalagi Ibuk dan ibunya berada dalam taklim yang sama. Meski lama tak bersua, saat pertama kali bertemu di sekolah kami sudah langsung mengenali. Ia mendatangi saya kemudian menyapa,”Mbak Irfa kan?”

Ahai ... Obrolan basa basi pun terjadi. Lantas kami pun menjadi lebih akrab. Semakin hari semakin erat. Kadang ia nyariin saya sekedar say hello, atau saya lewat kelasnya lantas berhenti sejenak untuk bercanda. Banyak teman-teman kemudian menyangka kami bersaudara. Kebetulan struktur wajah kami mirip. Sama-sama berkulit terang, bermata sipit, dan bergigi gingsul. Sangkaan itu kami iyakan tanpa kesepakatan. Ia mengaku saya adalah kakaknya, dan saya jika ditanya tentangnya pun selalu saya katakan ia adalah adik saya. Ia memanggil saya Embak, dan saya memanggilnya Adek.
Kami sering pulang bareng jika saya ke rumah Simbah. Kebetulan rumah Simbah satu jurusan naik angkot dengan rumahnya. Ia hapal hari apa saja saya akan pulang ke rumah Simbah. Dan kami akan saling menunggu satu sama lain di hari itu.

Perasaan nyaman satu sama lain. Menjadi tempat sampah ketika butuh membuang keluh. Lantas perasaan rindu pun ikut terlibat. Debar di dada sering mengiringi saat berbicara, bercanda atau sekedar tersenyum saja. Sehingga sebenarnya, tanpa perlu dikatakan pun sudah cukup kami mengetahui bahwa kerinduan berbanding lurus dengan perasaan terindah.

Satu hari, jadwal saya ke rumah Simbah. Ia sudah menunggu saya di pintu gerbang sekolah. Saya tersenyum dan berlari ke arahnya. Namun ia tak membalas senyum saya. Matanya tak mau menatap ke arah saya.

“Adek kenapa?” tanya saya menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Ia terdiam sesaat. Lantas ia mengembuskan napas kemudian memutar tubuhnya menghadap saya tiba-tiba. Saya kaget dengan ekspresi kaku di wajahnya.
“Mulai hari ini, kita nggak usah barengan ya?”
Saya terdiam. Berjuta tanya memenuhi kepala.
“Kenapa?”
“Aku nggak mau lagi.”
“Adek marah?”
Ia menggeleng kuat.
“Ya? Nggak usah barengan lagi ya?” suaranya lirih memohon.
“Tapi masih bisa ngobrol kan?” tanya saja masih berharap.
“Nggak usah ya?”
“Kenapa?”

Ia tak menjawab. Hanya mengajak saya bersalaman, kemudian berlari menjauh. Saya hanya terpaku di gerbang sekolah.

Saya mencoba mencari penjelasan. Namun ia selalu menghindar. Sampai beberapa lama, saya pun merasa lelah. Saya berhenti meminta penjelasan.  Dan hati saya pun rontok perlahan.
Saya merasa tak punya semangat bersekolah. Mulai membiasakan diri menganggapnya tak ada. Namun selalu terasa nyeri di dada saat melihatnya lewat atau bercanda dengan teman-temannya. Meski ia masih memberikan saya senyuman.
Mencoba melupakan dengan konsentrasi pada pelajaran bukan hal yang mudah. Saya benci ketika nilai-nilai ulangan dan rapor pun terjun bebas. Pertanyaan dari guru pun sulit saya jawab ketika mempertanyakan prestasi saya. Tak mungkin dong, saya mengaku bahwa hati saya sedang patah.
Jengkel karena saya sulit mengenyahkannya jauh-jauh dari pikiran, saya nyoba pacaran dengan orang lain. Memang tak seberat sebelumnya. Namun ia tetap menghuni hati.

Waktu pun berlalu. Saya pun sudah berganti seragam menjadi putih abu-abu. Sedikit demi sedikit saya bisa melepaskan hati. Mengikhlaskan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab olehnya. Bertemu dengan teman baru, gebetan baru, dan kenangan-kenangan baru.

Sampai dua tahun berlalu, tiba-tiba ia muncul di teras rumah saya bersama sang kakak. Sang kakak menyampaikan amanah dari ibunya untuk menyampaikan undangan pernikahan si kakak dan meminta saya datang ke rumah mereka keesokan hari. Dengan perasaan tak menentu saya pun datang ke rumahnya menemui sang ibu. Ternyata saya diminta untuk menjadi pager ayu mendampinginya sebagai pager bagus di pernikahan kakaknya.

Rasanya awkward. Setelah sekian lama menata hati, akhirnya kembali berantakan lagi dengan sebuah prosesi pernikahan. Saya berada di sampingnya, atau berhadapan dengannya. Tak banyak bicara. Meski hati rasanya seperti jetcoaster. Ingin rasanya mempertanyakan kejadian di masa putih biru. Namun logika saya melarang. Ini bukan waktu yang tepat. Bahkan saat ia mengantar saya pulang, saya tetap memilih mengunci mulut.
Ia mengantarkan saya sampai pintu rumah.

“Mbak, maafkan aku.”
“Iya.”

Ia kembali mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Beberapa detik ia menggenggam tangan saya. Saat melepaskan ia langsung beranjak pergi.

Sempat baper untuk beberapa lama. Namun kali ini saya lebih menguasai hati dan logika. Berusaha mengikhlaskan yang pernah terjadi dan tak ingin menengok ke belakang kembali. Saya dan dia sama-sama mengejar cita-cita.

Lima tahun setelah itu, kami kembali dipertemukan saat sama-sama mengantar Ibu masing-masing ke taklim. Ia lebih dewasa. Senyumnya masih sama. Dan saya masih sempat merasakan jantung yang ngelunjak dadakan.
Setelah basa basi sebentar, ia bertanya.

“Besok aku ke rumah ya Mbak?”
“Duh ... aku mau ke dosen pembimbingku di Magelang,” jawab saya.
“Aku antar ya?”

Sejenak bimbang menyapa, lantas saya mengiyakan.
Waktu telah mengubahnya. Ia tak lagi Adek kecil yang selalu menghindar ketika saya bertanya. Pemikirannya bahkan jauh lebih dewasa ketimbang saya yang notabene secara umur lebih besar angkanya. Perasaan nyaman kembali melingkupi hati. Ia menunggui saya konsultasi skripsi berjam-jam. Setelahnya kami pun menyempatkan berdiskusi tentang skripsi saya setelah pulang ke rumah. Sehariam kami bersama. Dan ketika ia hendak pulang, tiba-tiba saja hujan turun makin menderas.
Di teras kami berbicara. Dan ia menjelaskan pertanyaan saya yang tersimpan selama sembilan tahun.

“Mengapa aku menghindarimu saat itu? Karena aku tak yakin kamu mau sama aku. Kalau aku ngomong sayang sama kamu, apa kamu mau terima? Aku kan adik kelasmu. Kamu pasti malu kalau ada yang tahu.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Berarti saat itu sebenarnya kamu mau?”

Saya tertawa. Sebuah kesalahpahaman terjadi saat itu.

“Tapi aku bersyukur, Dek. Saat itu kita nggak sama-sama tahu kalau kita saling sayang. Mungkin saja, pertemanan kita nggak akan sebaik sekarang.”
“Iya. Tetap ada yang bisa kita syukuri. Kamu sekarang gimana, Mbak? Ada yang serius?”
“Lagi deket aja.”

Ia tersenyum.

“Sejujurnya, Mbak, Ibu pengen kita bisa deket. Maunya Ibu keluarga kita bisa jadi keluarga besar. Tapi aku nggak mau jadi duri bagi orang lain. Aku datang belakangan. Nggak seharusnya aku ngambil kebahagiaan orang lain. Dia pasti baik buatmu. Kalau nggak, mana mau kamu deket sama dia kan Mbak?”

Saya lega. Benar-benar lega. Seperti cangkang yang tiba-tiba terbuka. Meski ada perasaan sedih menguar ketika kejujuran sudah terkatakan. Namun saya terharu, ia tak egois memaksakan keinginannya. Ia berbeda.

Dan kami pun resmi menjauh. Tak saling berhubungan. Saling menjaga. Kabar tentang kami saling ditukar oleh orang tua kami masing-masing. Itu saja sudah cukup.


Bahagia tak lantas untuk bisa memiliki. Melepaskan juga menjadi salah satu cara untuk mendapatkan keindahan hati. Menunggu saatnya. Ketika Yang Kuasa berbicara dengan cara-Nya

18 komentar:

  1. Makasih mbak Irfa ceritanya. Duh, aku selalu baper deh bacanya.. Huhuu.. Alhamdulillah semua berakhir baik ya mba.. Balada putih biru hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kabeh wis bahagia mbak Din, dan persahabatan keluarga tetep terjalin baik

      Hapus
  2. Aku terharu ik bacanya. Oalah deekk deekk... Ngertiyo aq sing bilang ailapyu *brutal mode

    BalasHapus
  3. Mba Irfaa ya ampuuun ceritanya melemparku ke masa2 SMP, masa2 baper kaya gini. Trus sekarang gimana kabar si adek, udah punya anak berapa, ops kepo 🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Ada di FB Mi, cuma nggak mau nyapa, ntar kebablasan hahaha

      Hapus
  4. Wahahah soal patah hati aku juga punya pengalaman pait pait manis mba irfa hihi kapan2 cerita d blog juga ah XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk ah... Tulis... Tuliss haha

      Hapus
  5. Huhu...patah hati ya. Aku pernah patah hati tapi waktu udah gede sih..wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang udah gede ga berani nulisnya hahha

      Hapus
  6. Huhuhu.... baper.. T.T

    si Adek pandai sekali menjaga perasaan, eh

    BalasHapus
  7. Waaaah ... Baper bangeeet aku.. dewasa banget ya.. :) cerita patah hati kalau di tangan penulis bisa jadi keren banget deh :)

    BalasHapus
  8. Patah hati yang bikin inspirasi ya mba Irfa hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inspirasi menulis memang bisa datang dari mana aja hahaha

      Hapus
  9. masih mending kalo jawabannya sudah terjawab, yang lebih parah lagi jika sampai tua pun masih tanda tanya hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung ya udah dapet kuncinya. Udah ga penisirin lagi hahahaha...

      Hapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih