Kisah seorang sahabat lama - Jurnal Hati

Minggu, 11 Juni 2017

Kisah seorang sahabat lama

source : www.pixabay.com

Assalamualaikum Temans, 
Jika ditanya tentang orang-orang terdekat saya setelah suami dan anak-anak saat ini, mudah sekali saya langsung menyebutkan nama mereka yang benar-benar pegang kartu truf saya, Mb Yana dan Vero. Namun jika saya bicara tentang mereka, saya bisa baper abis. Meweknya pake lama, mengingat mereka mendampingi dikala saya berada di titik nadir. Kebahagiaan dan tangis yang tak tampak di permukaan banyak sekali saya bagi dengan mereka.  

Saya lagi nggak pengen baper ah. Ramadhan ini sudah cukup bikin saya banyak mengingat hal-hal yang sedih dan memetik hikmah. Saya lagi pengen cerita tentang seorang sahabat yang lama nggak ketemu meski saya sering wira-wiri ke kota tempat tinggalnya.

Namanya Tjahjo Sasongko Djati. Sederet nama itu tertera di KTP nya. Kakak dan Adek memanggilnya Pakde Cahyo. Dia teman kuliah saya saat diploma di Jogja. Saat kuliah rambutnya gondrong sampai sepinggang. Kaca mata dan rokok menjadi trademark nya.


Jaman kuliah sih sepertinya masih seperti layaknya remaja di jamannya. Jeans dan flanel menjadi pakaian kebesarannya. Tak lupa topi warna hitam menjadi asesoris kebanggaannya.

Bicara mengenai wajahnya, kok saya kesulitan mendeskripsikan ya? Ganteng enggak, jelek? Nggak berani ah ngatain begitu meski kepingin :D Kulitnya ... nggak bisa juga dibilang sawo matang. Kematangan mungkin. Ada kumisnya, meski nggak setebel suami Inul punya. Serem? Nggak terlalu, tapi tipe yang gampang disukai cewek juga enggak. Deskripsinya ngaco banget keknya nih :D

Meski begitu, dia njawani banget. Bicaranya halus, banyak menggunakan kromo inggil. Kotradiktif banget dengan penampilannya yang sedikit selengekan. Dia pendengar yang baik dan ngemong. Saya nyaman banget sahabatan dengan dia.

Setelah saya pindah ke Semarang saya jarang ketemu meski nggak lost contact juga. Namun semakin jarang ngobrol setelah nikah dan anak-anak lahir. Tapi ia tetap menyempatkan main ke rumah dan dekat dengan suami dan anak-anak.

Sayangnya, ia tak juga menemukan tambatan hati. Waktu itu. Udah gitu, performance nya pun berubah. Jeans nggak lagi dipakai dan berganti dengan pantalon. Flanel pun berganti dengan batik, kemanapun ia pergi meski maen sekalipun. Tak lupa pin merah putih dan sepeda motor buatan Indonesia saat itu, entah apa merk nya. Saya merasa penampilannya jadi nerd gitu. Rambut sepinggangnya pun ngilang nggak berbekas. Tapi tawa dan gojek kere nya nggak berubah. Anak-anak pun tetap gelendotan, dan marahin kalau dia ngerokok saat main ke rumah.

Ketika teman-teman yang lain satu persatu sudah tak lagi melajang, ia masih saja single fighter. Bukannya nggak kepengin, tapi nggak ada yang mau. Catatan romance nya memang mengenaskan. Setiap kali suka terhadap lawan jenis selalu saja punya kendala.
Saya mencatat tiga kali kisahnya.

Kisah pertama

Cahyo ini sempat mengikuti sebuah MLM. Kebetulan posisinya saat itu sudah lumayan. Biasa dong kalau MLM untuk produk kesehatan, downline Cahyo pun para orang tua yang kepengin hidup sehat. Seorang ibu di Solo pun sangat suka pada Cahyo yang santun dan selalu bicara dengan kromo inggil ingin menjodohkannya dengan salah satu putrinya yang belum menikah. Namanya juga usaha. Ia pun datang ke Solo, ke rumah downline nya tersebut. Keluarga besar si ibu sangat setuju jika Cahyo menjadi bagian dari keluarga. Yang nggak setuju, si putri yang belum menikah. Setelah beberapa kali datang, Cahyo pun memutuskan untuk menggagalkan ikhtiar perjodohan itu.

Kisah kedua

Lagi-lagi  ia bertemu downline yang sangat menyukainya. Orang tua tentu. Si Bapak ini rumahnya daerah Magelang coret. Dari rumah saya sekitar lima kilometer lagi. Si Bapak jatuh cinta dengan sopan santunnya Cahyo dan mengundang Cahyo untuk datang. Ia ingin menjodohkannya dengan sang putri. Cahyo sebenarnya sudah agak ragu. Tapi si Bapak meyakinkan.
“Anak saya nggak bakal menolak, Mas Cahyo. Ia sangat patuh sama Bapaknya. Saya yakin, panjenengan akan jadi menantu terbaik saya.”
Percaya diri dong, nggak akan terulang lagi tragedi Solo. Satu hari pun ia mantap datang ke Magelang. Saat dikenalkan, ia merasa cocok dengan putri Bapak itu. Anaknya manis, kelihatan nggak neko-neko. Sopan pula dan mengenakan jilbab. Selama satu jam ia berada di Magelang. Hatinya berbunga-bunga. Di usia 35 namun casing 45 itu akhirnya ketemu dengan tambatan hati. Namun hatinya mencelos, saat mendengar isak si gadis itu. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan putri si Bapak dengan ibunya.
“Bu, saya manut Bapak mau menjodohkan saya dengan siapa yang Bapak sukai. Tapi jangan yang ini. Saya langsung ingat Pakde kalau lihat dia. Dia mirip sekali dengan Pakde kan? Rasanya kalau nikah sama yang ini kok seperti nikah sama Pakde sendiri.”
Hatinya rontok. Namun semangatnya masih ada. Belum jodoh, bisiknya dalam hati.

Kisah ketiga.

Seorang teman kami berniat baik.  Ia menyarankan Cahyo taaruf dengan tetangganya. Gadis yatim piatu. Guru TK. Alim, begitu promosi teman kami. Cahyo pun berkenalan dengan si guru TK. Perkenalan yang berjalan baik. Komunikasi berjalan lancar. Via SMS. Bahkan obrolan sudah menjurus ke hal yang lebih serius. Sudah saling mendengar suara masing-masing. Tanggapannya pun baik. Merasa cocok satu sama lain.
Harapan pun menyembul kembali. Cahyo mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan keluarga si guru TK. Si guru TK pun menyambut dengan senang hati keseriusan Cahyo. Pertemuan pun dirancang di rumah si guru TK yang tinggal bersama embahnya. Ia menyiapkan baju terbaiknya. Membeli batik terbaru.
Cahyo datang. Yang menemui pun Ia SMS si guru TK.
“Aku sudah datang, Dik.”
“Ya, Mas, aku buatkan minum dulu.”
Cahyo pun ngobrol dengan si embah. Mengutarakan keinginannya untuk lebih serius dengan si guru TK. Sang embah pun menyerahkan keputusannya pada cucu semata wayangnya. Setelah selesai obrolan dengan Embah, si guru TK pun keluar membawa nampan berisi minuman dan camilan.
Tatapan bertemu. Meski si guru TK wajahnya tak begitu istimewa, namun karena sebuah niat baik, Cahyo tetap memantapkan niatnya untuk meneruskan keseriusannya. Si guru TK pun masuk kembali ke dalam rumah dan tak muncul lagi sampai Cahyo pamitan pada sang embah.
Saat ia hendak memakai jaketnya suara notfikasi SMS masuk berbunyi. Biasanya ia akan meneruskan langkahnya dan membuka SMS saat berada di tujuan berikut. Namun hatinya meminta ia membaca SMS yang baru saja masuk. Dari si guru TK
“Mas, mulai hari ini jangan SMS saya lagi, apalagi menelpon ya? Sepertinya komunikasi kita cukup sampai hari ini.”

Cahyo paham. Hatinya patah. Harga dirinya jatuh. Sedih, namun tak bisa menyalahkan. Semuanya tak bisa dipaksakan. 

Dalam kondisi hati yang tak menentu, ia pergi ke Jakarta, ke rumah eyangnya. Ia bertemu seorang gadis, teman masa kecil yang tinggal di depan rumah eyangnya.  
Saling ngobrol, saling curhat. Lantas merasa mempunyai kesamaan kisah sedih. Mempunyai kegundahan yang senada. Kemudian ngobrol intens. Tanpa diduga timbul saling ketergantungan. Dan tak ingin lepas.


And finally found someone.

Tebak deh, orangnya yang mana? :D

Jadi pengen ketemu sama sahabat saya yang satu itu deh. Makasih ya Mbak Tina dan Mbak Nurul udah bikin tema yang manis untuk arisan kali ini. 

10 komentar:

  1. Aku kok baca ini jadi kangen temenku ya mba :")

    BalasHapus
  2. yang berdiri di belakangmu mbak Ir... paling antik, hehe.
    mbak irfa imyut bingitt... eh itu pinggir ndak Doni?

    BalasHapus
  3. Wuaaa...mbak Irfa isih ketok imyut. Oooh itu yg namanya mas Cahyo. Iya sih, keliatan kalo orangnya antik, hihi

    BalasHapus
  4. Duh, baca ini jadi ingat dulu aku pernah nakal kayak guru TK itu. Hiks.

    BalasHapus
  5. Duhh perjuangan temanmu menemukan jodoh berliku yo mbaa..baca ini kayak cerpen, sukaa..

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah.. Akhirnya temen nya mb irfa ketemu jodohnya juga..jodoh pasti bertemu yaa mb, meski berliku awalnya :)

    BalasHapus
  7. Maaf lahir batin mbak Irfa, baru bisa BW nih:)

    Alhamdulillah akhirnya happy ending ya mbak, saya udah deg2an aja nih jangan2 masih jomblo aja..kasian..

    Meskipun jaman udah maju tapi nggak dipungkiri orang masih suka lihat fisik untuk urusan jodoh ya mbak, meskipun itu nggak salah juga.

    Tapi salut dengan kesabaran mas Cahyo. Dan itu membuktikan kalau jodoh sudah diatur Allah tinggal ikhtiar kita aja ya mbak.. :)

    Ini menginspirasi untuk orang lain yg sulit dapat jodoh, kuncinya sabar dan berdoa :)

    BalasHapus
  8. Aku ikutan sedih baca yg pas penolakan2 itu. Alhamdulillah Mas Cahyo akhirnya sudah menemukan seseorang ya.

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah mas Cahyo akhirnya bertemu dengan pasangan hidup juga.
    Allah Mahabaik. Langgeng terus persahabatannya ya mba IR

    BalasHapus
  10. waaah jadi memorize semuanya ya

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih