Selasa, 30 Mei 2017

Ketika Kakak Beradik Tinggal Berjauhan



Kalau bicara sesuatu yang paling dirindukan adalah berkumpul kembali bersama keluarga. Namun apa mau dikata Bapak sudah berpulang 18 tahun yang lalu,  dan Ibuk menyusul lima belas tahun kemudian, tepatnya 3 September 2014.

Yang sudah dipeluk oleh-Nya takkan mungkin bisa kembali. Semua sudah takdir Allah bahwa saat ini sosok-sosok pemersatu dalam keluarga kami telah hilang. Tentu saja hal ini menjadikan kami, putri-putri Bapak dan Ibuk selalu berusaha bertemu setahun sekali.

Kok setahun sekali?
Begitulah. Sejak sebelum menikah,  Dik Nisa adik saya persis sudah merantau ke luar Jawa. Awal perantauannya saat menjejakkan kaki di propinsi paling ujung di Pulau Sumatera, Aceh. Empat tahun ia betah bekerja di sana bersama Lembaga Swadaya Masyarakat untuk pemulihan Aceh pasca bencana tsunami. Cukup lama di Aceh, ia pindah ke Lampung. Setelah lebih dari empat tahun berada di Lampung, ia berjodoh dengan orang Lampung pula. Saat ini ia sudah mempunyai dua cowok ganteng yang memanggil saya binda.


Saya sering baper. Pengen banget bisa deketan sama adik-adik. Kalau pun beda kota namun masih di Pulau Jawa bayangan saya masih bisalah dijangkau dengan transportasi. Kalau beda pulau... Duh... Saya dipisahin oleh lautan yang maha luas #eaaaa

Saya masih punya harapan pada adik bungsu saya, Dik Rahma. Suaminya berasal dari tetangga kecamatan sehingga bisa dipastikan jika setahun sekali ia mudik. Iya... Mudik dari Medan. Saya sempet bilang ke suaminya, kalau bisa pindah ke Jawa. Saya merasa tak kuat jauh-jauhan dengan sodara.  Saya udah mirip orang tua yang kangen pada anak-anaknya.



Saya bisa menarik napas lebih lega. Gosipnya sih, Dik Arif, suami Dik Rahma mau dipindahin ke Jawa. Kalau dipindahin Jakarta, saya lebih hepi lagi karena Dik Rahma, Eza dan Aira anak-anaknya akan tinggal di Magelang.

Sejujurnya, bagi saya perasaan berat ketika jauh dari adik-adik membesar setelah Ibuk tiada. Apalagi suami juga tak selalu berada di rumah karena bekerja di luar kota. Jika masih ada Ibuk, saya masih punya tempat untuk berpegangan saat saya punya masalah. Meski tak selalu sepaham setidaknya ada perasaan lega ketika bercerita pada Ibuk tentang perasaan yang mengganjal. Setiap hari saya punya waktu bicara hal yang remeh temeh. 

Jujur, saya kesepian. Saya sering merasa sendirian. Sebagai anak sulung, saya dikondisikan oleh adik-adik sebagai pengganti orang tua. Dan menjadi orang tua memang selalu ingin dekat dengan anak-anaknya. Ingin selalu berkumpul selagi masih ada kesempatan. 

Benar, saat ini gadget sudah sedemikian canggihnya. Jika kangen saya bisa video call dengan adik-adik melihat wajah-wajah mereka. Namun teknologi tak bisa menggantikan perasaan dicintai ketika kami berpelukan, tertawa bersama, atau nggosip bareng di kamar seperti yang dulu sering kami lakukan ketika belum berkeluarga.

Yah ... baper deh. Nggak papa juga sih, emang dari kemarin udah kangen banget sama adik-adik. Kebetulan banget mbak Rizka Alyna dan Mbak Alley Hardiani malah memberikan tema baper jilid dua dalam arisan kita kali ini. 




Senin, 29 Mei 2017

Opor Ayam Khas Jogja


Saya paling ribet jika lebaran tiba dan merayakannya di rumah mertua. Kenapa? Karena saya sama sekali nggak suka opor ayam kuah kuning beserta sambal goreng ati sapi campur udang yang biasa disajikan. Bukannya nggak menghargai, tetapi lidah saya memang kurang familiar dengan masakan asin khas pantura. Ditambah lagi saya alergi dengan beberapa seafood membuat saya berhati-hati ketika berada di Semarang. Suami suka sebel karena saya pasti minta keluar rumah kalau lapar. Bukan apa-apa, lebaran hari pertama kan sulit nyari orang jualan meski di kompleks perumahan yang besar.

Ngomong-ngomong tentang opor ayam, saya paling cocok sama masakan Ibuk alm. Opor ayam khas Jogja masakan Ibuk selalu menggoda lidah. Mungkin karena saya suka masakan jawa yang manis dan gurih, mau makan berkali-kali pun saya nggak berasa eneg. Namun sejak Ibuk berpulang, saya dan adik-adik boleh dibilang nggak pernah masak opor ayam kalau pas ngumpul. Saya nyetok makanan yang ramah anak dan cepat saji seperti galantin, egg roll maupun nugget yang sengaja saya buat lebih banyak dari biasanya.

Sabtu, 27 Mei 2017

Mau Family Gathering? ke Orang Utan Resto aja ...


Saya baru tahu ternyata Orang Utan Resto satu grup dengan Borobudur Silver maupun BS Resto. Kalau tempat ini sih, saya udah tahu lumayan lama karena pernah dua kali menggunakan paket wisata arung jeram dari tempat ini.

Borobudur Silver, pilihan kerajinan perak berkualitas


Seumur hidup, sama sekali saya nggak pernah menginjakkan kaki saya ke toko-toko kerajinan perak, baik yang dulu banyak bertebaran di sekitar Jalan Mayor Kusen Pabelan Mungkid ataupun di Kota gede Yogyakarta. Bayangan saya ketika membaca art silver ya toko yang menjual perhiasan dari perak. That’s it. Saya sendiri nggak terlalu suka dengan perhiasan, baik untuk menghias rumah ataupun perhiasan yang biasa dipakai oleh perempuan. Kalau toh punya, saya lebih suka menyimpannya sebagai tabungan.

BS Resto, pilihan jamuan kuliner di Kabupaten Magelang


Sumpah!
Saya nggak tahu kalau ternyata ada tempat yang keren untuk menjamu tamu di dekat rumah. Selama ini saya selalu mengajak teman atau kerabat ke Jogja atau ke Magelang jika saya hendak mengajak mereka makan ke tempat yang nggak Cuma memanjakan perut namun juga memanjakan mata. Ternyata, hanya sepelemparan batu (batu raksasa) aja tu tempat yang bisa bikin kita betah berlama-lama di sana.

Tempat ini berada di Jalan Mayor Kusen km 2,4 Pabelan Mungkid, hanya sekitar dua kilometer  dari pertigaan Palbapang, salah satu jalur ke arah Candi Mendut dan Candi Borobudur. Tempat ini mungkin sudah lebih dari seribu kali saya lewati. Bagaimana tidak, jalur ini adalah jalur mondar mandir saya menuju keluarga besar dari kakek dan nenek saya. Bahkan sekedar mengunjungi peninggalan orang tua saya pun saya biasa melewati jalur ini. Benar-benar bikin tepok jidat.
Dan akhirnya saya pun punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini. Untuk yang pertama kali! Setiap kali lewat ngelirik sambil ngebatin, oh ... resto. Gitu doang. Nggak kepikir apa istimewanya tempat ini.

Rabu, 24 Mei 2017

Stok lauk siap saji untuk sahur

Assalamualaikum Temans,

Dua hari lagi kita memasuki Bulan Ramadhan. Masa-masa saya memberikan pemahaman puasa kepada anak-anak sudah lewat. Hanya saja emang lebih banyak ngobrol dengan mereka untuk lebih memperbanyak ibadah lain, contohnya membaca Al Qur’an.


Ramadhan ini Insya Allah lebih mendekatkan kepada keluarga. Biasanya Kakak dan Adek makan pagi berdua karena saya masih rempong di dapur, jika di bulan Ramadhan saya sahur bisa barengan dengan anak-anak di meja makan. Semakin banyak quality time bersama anak-anak.

Senin, 22 Mei 2017

Obrolan Kakak dan Adek: Ditikung dan Menikung



Assalamualaikum Temans,

Gara-gara semalem si Adek cerita mengenai tikung menikung, saya jadi ingat obrolan dengan Kakak dengan tema yang sama. Jadi cerita Adek semalem, beberapa minggu yang lalu tempat duduk Adek di kelas berada tepat dibelakang ’kembang kelas’ nya. Kata si Adek, lebih dari lima orang di kelas Adek yang suka sama si N, kembang kelasnya, termasuk Adek.  

Menurut Adek di antara lebih dari lima anak itu, ada satu yang sukanya sampai banget. Namanya D. Lumayan deketlah si D sama Adek. Tahu sama tahu kalau suka sama N. Dan si Adek lebih sering jadi pendengar curhatan D tentang N dibanding bercerita tentang rasa sukanya. Iya sih kalau saya lihat, Adek itu tipe laki-laki yang cool, pendengar yang baik, nggak banyak ngomong kalau di depan orang. Sementara si D itu tipe pejuang, fightingnya juara. Sampai masalah perasaan pun dia lebih show off.

Minggu, 21 Mei 2017

Tren Millenial untuk JNE : I Love Monday


Dulu, saat saya masih kuliah saya suka melihat perempuan-perempuan yang bekerja di perbankan. Perempuan-perempuan gesit itu bekerja dengan cekatan meski berada dalam balutan pakaian resmi. Blazer yang sesuai dengan corporate colour tampak begitu menyenangkan dipandang.

Saat memasuki dunia bekerja, saya pun diwajibkan memakai pakaian resmi pula karena pekerjaan saya sebagai account executive di perusahaan media cetak perwakilan Semarang. Tentu dong, blazer pun menjadi andalan saya. Bertemu dengan orang-orang yang notabene sebagai pengambil kebijakan membuat saya tak bisa sesuka saya memakai pakaian yang berwarna warni. Padahal saya suka banget sama warna-warna yang cheerfull. Apalagi saat itu dianjurkan menggunakan warna-warna yang elegan sehingga saya pun harus rela meninggalkan warna-warna favorit.

Minggu, 14 Mei 2017

Alternatif oleh-oleh khas Jogja : Mamahke Jogja


Tentang Mamahke Jogja


Assalamualaikum ...

7 Mei 2017 lalu, saya dan beberapa teman blogger, vlogger, media dan citizen journalist lainnya mendapatkan undangan untuk test food di sebuah brand kuliner baru Mamahke Jogja. Jika mendengar kata mamahke Jogja, Apa yang ada di benak kalian?

Sepanjang perjalanan dari Magelang menuju Jalan Tamanan Jogja saya berpikir mengapa kata mamahke Jogja menjadi pilihan bagi Hanung Bramantyo dan Zaskia Adya Mecca sebagai brand dari bisnis kulinernya yang berada di kota destinasi wisata ini. Bayangan saya pertama kali brand itu berasal dari kata ‘Mamah ke Jogja’. Namun ketika saya ingat bahwa Zaskia dipanggil Bia oleh anak-anaknya, saya pun mengutak atik lagi. Penasaran dengan filosofi dari brand ini.

Sabtu, 13 Mei 2017

Biarkan Tangan Tuhan Yang Bekerja

source : www.pixabay.com
Assalamualaikum,
Ketika tema masa kecil disuguhkan oleh Mbak Nia Nurdiansyah dan Mbak Anjar Sundari untuk diceritakan dalam arisan kali ini, saya harus memutar memori lumayan keras karena bagi saya, masa kanak-kanak saya tak begitu membahagiakan. Banyak hal yang kemudian saya lupakan karena dalam alam bawah sadar saya tak menginginkan hal-hal buruk kembali dalam ingatan.
Mungkin saja, hal ini salah satu pertahanan saya untuk bisa survive di masa itu. Bagi sebagian orang, hal itu mungkin bukan satu hal yang besar. Urusan anak-anak. Namun ketika anak-anak mengalami dan terluka, tak pernah disadari oleh orang dewasa sekalipun bahwa hal buruk yang dirasakan ternyata mengendap.
Saat saya bercerita pada suami, saya disarankan untuk menuliskan yang saya rasakan untuk katarsis supaya perasaan negatif dalam hati tersalurkan. Waktu itu saya tak mau. Saya tak ingin ingatan tentang hal buruk hadir dan membuat luka lama terkuak. Namun sejujurnya saya ingin menuliskan hal itu untuk healing saya dari rasa sakit. Mungkin, ini adalah saatnya.