Jumat, 25 November 2016

Catatan ringan di Hari Guru

Assalamualaikum Temans,
Jika saya seorang pendidik di sebuah lembaga pendidikan, bisa jadi hari ini saya meneteskan air mata. Bukan menyuarakan kesedihan, namun  kebahagiaan yang meruah di hati saya. Hari ini saya menyaksikan betapa seorang pendidik menjadi seseorang yang sangat penting dalam kehidupan siswa siswinya.

Di kelas si Adek, balon warna warni terhias di sekitar papan tulis. Ada ucapan Selamat Hari Guru di sana. Tulisan sederhana, namun mewakili perasaan anak-anak yang tersenyum ceria melihat Bu Gurunya tersenyum dan meminta anak-anak untuk foto bersama.
Melewati parkiran, sekelompok anak-anak sedang mengajak teman-temannya untuk menghias kelas.


“Ayooo ... cepetan ke kelas. Kita mau bikin surprise buat Pak Agus,” seru seorang anak perempuan sambil berlari dengan kepala menoleh ke belakang.
“Mau ngapain?”
“Ya menghias kelas dong.”
“Itu tugasnya anak perempuan.”
“Iyaaaa ... tapi anak laki-laki bantuin kita tiup balon dan masang balonnya.”
Dan anak-anak itu pun lari ke kelas dengan mata yang bersinar. Excited banget kelihatannya.

Lagi-lagi Pak Agus, batin saya. Sepertinya Pak Agus ini sangat dicintai anak-anak. Entah guna-guna apa yang digunakan Pak Agus sehingga hati anak-anak terpelet begitu hahaha ... just kidding, Pak.
Satu-satunya guru yang dipuji oleh Adek adalah Pak Agus. Padahal Adek itu pelit pujian jika menyangkut sekolahnya. Adek memuji kesabaran tingkat tinggi yang dimiliki oleh wali kelasnya saat kelas tiga. Bagi Adek saat kelas tiga, semua kata-kata Pak Agus seperti titah seorang raja.
Adek bercerita, saat naik ke kelas empat, Adek sempat berkirim surat kepada Pak Agus. Dia mengatasnamakan ex 3C memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat, serta berterima kasih karena telah membimbing selama setahun.

Melihat dan mendengar cerita Adek, saya jadi teringat guru-guru saya. Guru yang sampai sekarang selalu diingat. Guru yang memberikan teladan serta jasa yang tiada tara.
Saya teringat Pak Harno, guru bidang studi IPA saat saya masih SD. Berpuluh tahun lalu, beliau tak pernah menolak jika murid-muridnya datang untuk belajar. Dengan lampu petromax, beliau menyediakan diri untuk ditanyai oleh saya dan teman-teman meski bukan pelajaran yang diampunya. Saya kagum oleh semangat beliau. Kami berhutang banyak pada beliau. Kami telah menyita beratus malam beliau untuk kami kunjungi. Harusnya ratusan malam itu bisa beliau gunakan untuk istirahat. Namun dengan senyum beliau menerima kami dengan tangan yang terbuka.  Semoga Allah merahmati dan menjaga beliau dalam segala kebaikan. Aamiin.


Saya yakin, masih banyak lagi guru-guru yang amat dicintai oleh anak didiknya. Selalu tersenyum tulus dan bersikap apa adanya. Anak-anak mempunyai intuisi yang tajam, bisa merasakan sebuah ketulusan.

Selamat Hari Guru ...
Semoga selalu menjadi penerang dan penenteram jiwa anak-anak kami. Lagu ini untuk anda, para pelita anak--anak kami.





3 komentar:

  1. banyak cerita tentang guru dan setiap orang yang pernah sekolah pasti mempunyai kesan dan cerita tersendiri tentang gurunya.
    thank

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih