My Partner in crime, my inspiration - Jurnal Hati

Sabtu, 13 Agustus 2016

My Partner in crime, my inspiration

photo taken by ets

Kesan pertama saya mengenalnya, dia adalah perempuan kalem dan sederhana. Penampilannya yang jauh dari bling-bling bahkan menurutnya kluwus ternyata merupakan salah satu jalannya menjauhkan diri dari tabarruj. Saya merasa ‘jleb’ banget ketika mengkritik penampilannya mendapatkan jawaban seperti itu. Saya yang merasa sudah sering mengikuti taklim aja belum sampai pada pemikiran seperti itu.

Namanya Indah Novita Dewi. Saya memanggilnya Mbak Ind. Pertemuan pertama saya adalah bulan Desember 2013, pertama kali saya bergabung di IIDN Jogja yang saat itu kopdar di rumah Mbak Astuti, korwil periode 2012 – 2014.  Pertemuan pertama yang mengesankan. Semakin sore semakin terlihat gokilnya. Dan saya seperti menemukan rumah baru.

Takdir ternyata membuat saya dekat dengannya. Setiap saya ke Jogja janjian dengan penerbit atau seseorang, tak lupa saya ndlosor dulu di rumahnya. Awalnya karena strategis, dekat dengan Jakal. Lama-lama karena tak tahu malu, pesen sarapan atau kopi sebelum ke tujuan utama saya. Kadang saya bawa sendiri kopi favorit saya, dengan niatan tak merepotkannya. Padahal sama saja.


Awalnya banyak ngobrol karena passion yang sama dalam hal literasi. Di sela-sela studinya ia masih menyempatkan diri menulis fiksi. Beberapa tulisannya dimuat di majalah anak-anak. Dan yang membuat saya angkat topi tinggi-tinggi, ia berjalan di jalan sunyi. Tak banyak bicara, namun intens melahirkan karya. Kemudian kami sama—sama menjadi pengurus IIDN Jogja. Lama-lama obrolan kami berkembang. She is my partner in crime. Curhat atau nyinyirin orang kadang menjadi ‘me time’ kami. Bahkan membuat scene-scene drama yang pastinya nggak bakalan kami lakukan. Kalau melihat WA chat kami, akan bertebaran emoticon ngakak sampai nangis ataupun tulisan ‘wkwkwk’. Bahkan sampai semalam ketika saya minta ijin memakai fotonya untuk tulisan ini. Pada kenyataannya, kami tak punya banyak foto berdua.

Saya sering meneteskan air mata ketika dia bercerita.  Bercerita tentang Naufal, putra pertamanya yang mengidap Atresia Billier. Bercerita tentang perjuangannya mempertahankan kehidupan Naufal yang hanya tiga bulan. Kebahagiaannya melahirkan Nina. Mendapatkan anugerah ketika Emir, putranya yang ketiga dinyatakan autis ringan oleh dokter.  Kemudian harus kembali ke tumbuh kembang anak di RS Sarjito karena Amel putri bungsunya terdeteksi ADHD. Setiap hari mengkhawatirkan putra putrinya.

Tuhan memilihmu menerima ujian ini karena engkau mampu, mbak Ind.  Bersabar dan bersyukur, bahwa engkau melewati ini semua tak sendiri. Bersama orang-orang tercinta, kamu akan kuat melewati perjalanan hidup yang kadang menukik tajam.


Aku belajar sabar dan berusaha darimu. Kuatnya niatmu. Juga rendah hatimu. 

5 komentar:

  1. matur nuwun cerita inspiratifnya. jadi semakin ingin mengikuti kopdar iidn jogja. moga2 bisa kesampaian kalau tempatnya terjangkau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mangga ikutan kopdar dengan emak-emak keren di IIDN mbak, ditunggu lhooo ... Maturnuwun sudah mampir

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih