Senin, 22 Agustus 2016

Full Day School? Why not?

Bener nggak sih, anak yang bersekolah di sekolah yang menerapkan Full Day School itu tertekan dan kelelahan?

Kalau menurut pendapat saya sih, semuanya nggak bisa digebyah uyah. Untuk anak yang kondisi fisiknya rentan, mungkin saja kegiatan Full Day School menguras stamina anak-anak sehingga ketika pulang kelihatan lelah dan kurang bersemangat. Apalagi jika ditambah metode pengajaran yang kurang tepat akan membuat anak-anak terbebani dengan kegiatannya seharian.  

Lalu ada nggak sih, sekolah yang bikin anak hepi banget saat berangkat ke sekolah dan saat pulang sekolah anak-anak tetap ceria?

Kalau di tempat saya sih ada. Dua anak saya, satu SD dan satu SMP menerapkan full day school. Bagi saya, yang penting anak-anak hepi dan menikmati kegiatannya di sekolah. Selalu punya rasa kangen ke sekolah jika libur tiba. Duo krucil saya akan kebingungan kalau libur tiba. Jangankan libur panjang, libur hari Ahad saja mereka sudah merindukan hari Senin.


Apa sih yang membuat anak-anak saya hepi saat bersekolah? 
Kalau si kecil sih, dia merasa sekolah adalah playground nya. Lilo yang pola belajarnya kinestetik akan beredar terus, kalau perlu mengelilingi sekolah untuk bereksplorasi. Meski pernah bermasalah dengan salah  satu gurunya dua tahun lalu, saat ini dia kembali enjoy jika diajar oleh guru yang bersangkutan. Kalau saya tanya bagaimana perasaannya, dia akan menjawab udah nggak papa, Nggak takut, nggak marah, dan nggak papa. Oke lah kalau begitu. Luka hatinya telah sembuh dan kembali menikmati sekolah dengan ceria. It’s all fine.


Beda lagi sama si kakak. Anya, sulung saya bersekolah di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring. Secara kedisiplinan bagi saya standar umum untuk sekolah ya seperti itu. Kurikulumnya memadukan pelajaran umum dan pelajaran agama. Ditambah untuk muatan lokal yang berbeda dari sekolah lain adalah pelajaran Tafhimul Quran, memahami Al Quran perkata. Mirip dengan sekolah Islam terpadu lainnya.
Lalu apa istimewanya?
Saat anak-anak berangkat sekolah, sudah ada guru yang menyambut anak-anak di gerbang sekolah. Senyum dan jabat tangan pada anak didik tentu saja membuat anak-anak merasa diterima. Membuat anak-anak menjadikan sekolah adalah rumah keduanya. 
Anak saya menjadi pribadi yang lebih baik ketika menjadi bagian dari SMP Muhammmadiyah Plus. Berangkat sekolah selalu bersemangat, dan ketika pulang pun selalu excited dengan apa yang didapat di sekolah. Ada aja cerita yang dibawa ketika pulang sekolah.
Dulu, Anya merasa matematika adalah pelajaran yang sulit. Namun saat kelas tujuh, guru matematikanya menjadi ustad favorit nya. Kenapa?
“Kalau pelajaran sering di luar kelas, boleh bawa makanan, boleh bawa mainan. Boleh makan atau main kalau tugasnya udah dikerjain,” begitu testimoni Anya. Dan terbukti, nilai matematika saat kelas tujuh kemarin melejit, jauh diatas ekspektasi saya.

Kedekatan antara siswa dan pendidik tak perlu diragukan lagi. Curhat masalah apapun bisa dikomunikasikan dengan para ustad dan ustadzah. Pendekatan yang mirip dengan sahabat pun dilakukan para pendidik. Jadi, jangan heran, kalau siswa pun bisa curhat dengan kepala tata usaha di sekolah. 

Bagaimana dengan ibadahnya? Kalau anak saya, alhamdulillah, udah nggak perlu disuruh-suruh lagi. Shalat lima waktu udah auto pilot. Jika ketiduran dan belum shalat Isya,  seandainya lupa membangunkan kembali pun, dia akan shalat sendiri. Bahkan sekarang mulai Qiyamul Lail. Karena apa coba? Dia jleb banget dengan pesan dari ustad pengajar AAQ nya. Menyampaikan pesan keagamaan tidak sekedar surga dan neraka atau dosa dan pahala. Namun lebih menyadarkan anak-anak akan kebutuhan terhadap Allah, tanggung jawab sebagai manusia, juga semangat perjuangan menjadi manusia yang lebih baik. 

Pendidikan akhlak pasti menjadi nomer satu. Saya hanya nyengir waktu buka gadget sulung saya, membuka akun media sosialnya, dia bisa menasehati saudaranya. Ia juga menjadi peer conselor bagi teman yang bermasalah. Semoga Allah menguatkan anak saya, tak hanya saat dia masih berada di sekolahnya sekarang. Tapi juga di kemudian hari. Aamiin.


Saya kalau ngeliat sekolah yang satu ini, kadang heran aja. Para siswa betah banget berada di sekolah. Setiap hari ada ekskul. Dan ekskulnya lumayan banyak. Mulai dari PMR, English Club, Japanese Club, Jurnalistik, Fotografi sampai tata boga.  Kalau dijumlahkan ada lebih dari 30 ekstrakulikuler. Saat kelas tujuh, dari enam hari sekolah, yang empat hari Anya selalu pulang jam 17.00 karena ikut ekstra kurikuler. Capek? Tentu, tapi tak lantas membuat tanggung jawabnya sebagai siswa terabaikan. Semua tugasnya akan diselesaikan tanpa minta tolong kepada saya sebagai orang tua. Palingan saya hanya nemenin aja kalau pas bikin tugas.

Bagaimana dengan prestasi akademiknya?
SMP Muhammadiyah Plus ini baru berdiri 10 tahun. Tapi untuk UNAS, sudah beberapa tahun ini menduduki peringkat ke-3 untuk sekolah negeri dan swasta di Kabupaten Magelang. Bahkan untuk tahun ini, peringkat di Jawa Tengah berada di posisi 22 untuk sekolah SMP se-Jawa Tengah.

Lalu, prestasi non akademiknya gimana?
Mmm ... gimana kalau langsung ke sekolahnya aja? Piala yang berderet di selasar pintu masuk sekolah yang akan berbicara tentang prestasi yang diraih.

Beneran, jangan apriori dulu terhadap label ‘full day school.’ Nggak semengerikan yang orang tua sering bayangkan. Kita bisa melihat langsung proses pembelajaran anak-anak yang berada di sekolah.
Bagi saya, SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring sukses mem-branding sekolah menjadi ‘Sekolah Para Juara.’ Juara dalam bidangnya. Karena multiple intellegence anak-anak yang beragam bisa tergali.

Proud Of You, and Happy to be part of SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring. 

4 komentar:

  1. Keren ya, sekolahnya Anya. Great

    BalasHapus
  2. Iya mbak, makanya Anya disekolahin ke siti hehehe tengs sudah berkunjung

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih