Minggu, 24 Juli 2016

Berdamai dengan kolesterol

Hasil gambar untuk kolesterol
sumber: www.hariansehat.com
Selamat pagi sahabat,
Ini masih bulan Syawal kan? Tak ada salahnya kalau saya ngucapin Taqobalallahu minna wa minkum, syiamana wa syiamakum. Kullu aamin wa antum bi khaiir. 

Nah, saya pengen cerita pengalaman saya dua tahun lalu. Pasca lebaran, saya kembali ngebut ngerjain novel kedua. Udah gitu kukis di rumah masih banyak pula. Sebelumnya konsumsi makanan waktu lebaran kacau banget dengan santan dan teman-temannya. Di tambah lagi kukis yang menggoda di mata dan mulut melambai-lambai minta disantap. 

Saya nggak pakai perhitungan lagi deh. Demi DL yang sudah di depan mata akhirnya ngerjain novel nggak kira-kira. Jari-jari ini bergantian antara ngetik dan ngambil kukis. Belum lagi ditambah kopi buat ganjel mata supaya bisa melek sepanjang malam. 

Sebenarnya udah kerasa kedua bahu saya sakit kayak ditusuk-tusuk. Lain hari kerasa bahu kesemutan dan tangan rasanya tebel banget. Cuma nggak dirasain. Ditambah lagi Ibuk serangan stroke dan harus masuk ICU. Nggak ada kontrol apapun terhadap asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Sampai kemudian Ibuk sedo lalu ngurusin administrasi ke rumah sakit, taspen, bank dan lain-lain. Dua minggu setelah Ibuk sedo, saya baru ngerasain tubuh saya nggak sehat.

Gejala yang saya rasakan saat itu adalah :
1. Bahu terasa kaku, kadang seperti ditusuk jarum banyak banget, atau kesemutan. 
2. Tengeng, sulit untuk menoleh ke kiri atau kanan. Rasa sakit di bagian leher ini biasanya dialami oleh seseorang yang salah posisi tidur. Biasanya tengeng akan sembuh setelah dua atau tiga hari. Tapi saat itu saya merasakan tengeng seminggu belum juga sembuh.
3. Pusing
4. mudah mengantuk, tapi sulit tidur (leslesan)

Penasaran, kenapa tengeng nggak sembuh-sembuh. Udah nggak kuat ngerasainnya, akhirnya konsul sama dokter keluarga. Oleh dokter keluarga disarankan untuk periksa kolesterol. Hari berikutnya pagi-pagi setelah antar anak-anak sekolah saya langsung periksa darah ke laborat dimana dokter keluarga saya bekerja. Dua jam kemudian, hasilnya sudah berada di tangan dokter saya.

"Ya Allah Mbak ... Kok iso semene?"

Saya pun hanya bengong melihat hasilnya. Kolesterol normal, biasanya di kisaran angka 150. Total Kolesterol saya di angka 288. Trigliserid tinggi, LDL saya tinggi, HDLnya rendah. Mau nggak mau saya harus mengubah pola makan saya untuk menurunkan kolesterol. Selain obat yang saya konsumsi, untuk menstabilkan kolesterol saya pun melakukan diet. 

1. Diet gorengan. 
Hasil gambar untuk gorengan
sumber: www.teropongbisnis.com
Iya, saya maniak terhadap cemilan gorengan. Saya paling nggak nahan kalau ada tempe glepung, bakwan, tahu susur ada di meja makan. Saya pun akhirnya memaksa diri sendiri untuk nggak mengkonsumsi cemilan-cemilan itu. Kalau udah kepingin banget ya membuat jadwal makan gorengan hanya seminggu sekali dan hanya satu buah saja.

2. Saya hanya mengkonsumsi lauk yang direbus atau dikukus. 
Hasil gambar untuk lauk kukus
sumber: www.resepharian.com
Kalau bikin baceman saya nggoreng ya buat anak dan suami doang. 

3. Konsumsi tomat. 
Hasil gambar untuk tomat
sumber: www.panduanhidupsehat.com
Saya membaca di sebuah artikel bahwa tomat salah satu buah yang mengandung likopen efektif untuk menurunkan kolesterol. Setiap pagi saya konsumsi jus tomat, kadang menjadikan tomat sebagai pengganti camilan di siang hari

4. Mengkonsumsi Bawang putih tunggal.
Hasil gambar untuk bawang putih lanang
sumber: www.mulaisehat.com

5. Olah raga. 
Hasil gambar untuk jalan kaki
sumber: www.simanja.info
Olah raga saya cukup mudah dan murah. Setiap pagi, seminggu tiga kali selama 30 menit jalan kaki dengan menambah kecepatan.

Meski saya sekarang nggak lagi diet gorengan, alhamdulillah kolesterol tetap stabil. Hanya saja saya lebih suka membuat camilan gorengan sendiri di rumah. Agak khawatir kalau mau beli gorengan. Setidaknya kalau gorengan bikin sendiri minyaknya dipakai cuma 3 kali pakai. 

Kayaknya sudah cukup sharing saya pagi ini. Insya Allah bermanfaat ya?

4 komentar:

  1. Sekarang kolesterol gak pandang bulu ya mbak? Nampaknya saya kudu diet gorengan juga dan makan lauk yg direbus or kukus nih... trims sharingnya, moga sehat terus ya :)

    keluargahamsa.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mb, belum lagi sebangsa diabetes dan asam urat pun sudah bukan lagi monopoli kaum sepuh. Matur nuwun sudah berkunjung ya mbak

      Hapus
  2. Sharing yang bermanfaat karena aku mengalaminya sekarang huhuhu

    BalasHapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih