Mengajari anak cakap bermedia sosial - Jurnal Hati

Minggu, 29 Mei 2016

Mengajari anak cakap bermedia sosial

Membaca Buku Cakap Bermedia Sosial yang diterbitkan oleh tim Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik serta Direktorat Pengolahan dan Penyedia Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ini membuat saya terkikik geli. Sebagian hal-hal konyol yang saya tertawakan di buku tersebut pernah saya lakukan ketika awal mengenal media sosial di tahun 2008.


Seperti yang tergambar di halaman 07, saya pernah mengaku menjadi ibu rumah tangga yang multitasking, dimana semua kegiatan domestik dan dan luar rumah selalu saya unggah di kronologi media sosial tersebut. Sepertinya hebat sekali saya, seorang ibu rumah tangga biasa bisa berkegiatan sambil online, meski hanya kegiatan hore-hore.

Saya juga pernah setiap satu jam sekali mengunggah status yang menurut saya waktu itu penting sekali. Seperti saya sedang berada dimana, bersama siapa, dan bagaimana perasaan saya. Tak lupa foto selfie ataupun wefie menyertai setiap unggahan status setiap satu jam sekali itu. Beruntungnya saya, tak ada kejadian kriminal atau hal-hal yang kurang mengenakkan dengan aktivitas saya bermedia sosial waktu itu.
Buku yang berbentuk komik ini sudah pasti menarik perhatian remaja dan dewasa muda. Terbukti, anak-anak saya yang usia remaja senyum-senyum saat membaca buku tersebut sekali duduk. Bahkan anak saya yang masih usia SD pun tertarik membaca saat mengetahui kakaknya sesekali terkikik geli membaca buku itu.

Saya beruntung mendapatkan buku ini. Setidaknya kemudian saya berdiskusi dengan anak-anak tentang aktivitas saya sebagai orang dewasa dan mereka yang baru mulai eksis di media sosial. Menjawab pertanyaan Lilo, bungsu saya tentang kecenderungan anak-anak sekarang, bahkan teman-temannya yang masih SD sudah merasa perlu menggunakan smartphone dan mempunyai akun media sosial. Bahwa saat ini media sosial menjadi daya tarik yang sangat kuat karena menjadikan manusia seperti kehilangan separuh nyawa jika tak membawa ponsel pintarnya. Media sosial dianggap sangat penting karena bisa menyambung silaturahmi bagi penggunanya. Media sosial juga menjadikan manusia mempunyai kesempatan yang sama dalam berkarya. Dan ponsel pintar itu membuat kehidupan tergantung di jari penggunanya. Smartphone menjadi kepanjangan tangan dari kehidupan manusia.

“Bunda, temanku kalau di sosmed banyak yang pake nama samaran gitu, punya akun lebih dari satu juga banyak,” celetuk Anya, si kakak.
Saya pun menyampaikan ke Anya tentang etika bermedia sosial. Seperti apa sih bermain media sosial yang aman itu?

1. Tidak memasang nama dan profil lengkap. 
Bolehlah menggunakan nama lengkapnya, namun informasi-informasi penting tetaplah harus menjadi privasi bagi pemilik akun. Misalnya, nomor ponsel, email, tanggal lahir, ataupun nama orang tuanya.
Berhati-hati mengunggah foto dan video pribadi. Mengapa? Apapun yang pernah kita unggah, hal itu akan sangat mudah untuk dikonsumsi oleh orang lain. Salah-salah bisa disalahgunakan oleh orang yang mempunyai niat yang tidak baik.
2. Berhati-hati untuk mengekspresikan serta mengungkapkan perasaan di media sosial juga menjadi hal wajib yang perlu dipertimbangkan. 
Apakah perlu diketahui orang banyakkah yang kita rasakan? Pertimbangkanlah, apakah bisa menimbulkan prasangka atau tidak jika apa yang kita ketahui disampaikan ke media sosial.
3. Bertabayun. 
Mengecek kebenaran informasi yang diterima merupakan hal wajib yang kita lakukan. Malu banget kan kalau apa yang kita bagikan kepada orang lain ternyata hoax?
4. Putus komunikasi.
Jika merasa ada itikad yang tidak baik dengan orang asing, segeralah putuskan komunikasi.

Seperti sebuah mata uang yang punya dua sisi, media sosial pun punya sisi negatif dan positifnya. Albert Einstein pernah berkata jika sudah terlihat jelas bahwa teknologi kita telah melampaui kemanusiaan kita. Betapa manusia sangat mudah terdominasi oleh teknologi sampai seperti menghamba.

Sisi negatif media sosial.

1. Menjauhkan yang dekat.

Penggunaan teknologi (gawai) ternyata menciptakan jarak di antara orang-orang yang secara fisik berdekatan. Kesibukan dalam menggunakan gawai membuat kesadaran dan kepedulian terhadap sekitarnya berkurang.

2. Narsis (Selfie, Wefie, Groupfie)

Setiap orang memang suka menjadi perhatian. Hanya saja yang sering diabaikan adalah dampak negatif yang akan terjadi bagi pelakunya atau orang yang ada disekitarnya.

3. Update Status

Menggunakan media sosial seolah mewajibkan penggunanya untuk selalu memperbaharui setiap statusnya mengenai kegiatannya kepada semua orang. Padahal update status yang ekstrem bisa mengundang berbagai reaksi dan juga kejahatan.

4. Cyber bullying

Satu bentuk kekerasan yang dialami di dunia maya seperti dihina, diejek, dipermalukan dan diintimidasi sebagian besar dilakukan oleh lingkungan terdekat korban. Bullying di dunia maya efeknya tak hanya terjadi pada si korban, namun juga orang-orang yang berada di sekitarnya.

5. Perang di media sosial

Banyak terjadi di sekitar kita yang mengakibatkan putusnya hubungan sosial berawal dari adu argumen menyebarkan kebencian dan menghina di media sosial di ranah publik.

6. Ancaman Pornografi

Seseorang bisa terjebak dalam informasi pornografi ketika mengakses media sosial. Segala macam informasi, foto selfie pun bisa disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

7. Ancaman Phising, Malware dan Spam

Kita harus berhati-hati dalam memberikan data pribadi di internet karena dengan mudah orang yang berniat jahat mempergunakan data pribadi kita untuk merugikan kita. Begitu juga dengan berbagai macam tautan yang belum jelas sumbernya. Jangan sampai kita mudah klik tautan hanya karena keingintahuan yang tinggi.

8. Judi Online

Asyiknya main game menjadikan kita kurang berhati-hati dalam menyikapi game online yang marak saat ini. Jangan sampai kita melakukan taruhan di game online karena sekali kita mengikuti arus dalam permainan itu, kita akan terjebak di dalamnya dan sulit untuk keluar.

9. Penipuan dan penculikan

Jangan mudah mempercayai penawaran di media sosial, apalagi dengan orang asing. Banyaknya peristiwa pelecehan seksual, penculikan sampai pada pembunuhan berawal dari perkenalan dengan orang asing di media sosial.

10. Radikalisme online

Banyak terjadi perekrutan tentang isu-isu penentangan pada negara bermula dari media sosial. Perlunya wawasan lebih luas dan tak mudah terhasut bisa menjadi pagar bagi kita dalam mengolah informasi yang masuk pada kita.

11. Plagiarisme

Begitu mudah saat ini kita menyalin, menjiplak, mengambil karangan, pendapat bahkan foto orang lain dan menjadikannya seolah kita yang menciptakan semua itu. Itulah mengapa perlunya seseorang menghargai hak orang lain dengan cara mencantumkan asal berita atau informasi yang kita kutip.

12. Ujaran kebencian dan berita bohong

Think before you post. Banyak sekali pihak-pihak yang menggunakan media sosial dengan cara yang tak bertanggung jawab. Sebelum kita menelan informasi dan membagi dengan orang lain, perlunya kita cek kebenaran berita akan memberikan kita keamanan dan meminimalisir dampak negatif dari apa yang kita lakukan.

Media sosial tetap punya sisi positif kok. Lisa Horn, seorang ahli sumber daya manusia mengatakan segala sesuatu yang anda posting di media sosial berdampak pada pribadi anda bagaimana anda ingin dikenal.

Dampak Positif

1. Kreativitas yang menghasilkan.

Media sosial menciptakan peluang usaha dan kesempatan bekerja yang tak terbatas. Mendapatkan penghasilan dari kreativitas membuat kita semakin bermanfaat bagi sesama.

2. Membangun relasi dan komunitas.

Dengan adanya media sosial, kita bisa memilih pertemanan dan lingkungan dimana minat kita diwadahi dalam sebuah komunitas yang positif. Membangun relasi dan pertemanan membuat kita mempunyai jaringan luas yang kemungkinan bisa membuka pintu rejeki kita.

3. Berbagi pengetahuan

Informasi dan pengetahuan dengan mudah dibagikan di media sosial. Hal-hal baru bisa kita dapatkan dengan mudah.

4. Menolong orang dan empati.

Mengembangkan simpati dan empati pun bisa kita lakukan di media sosial. Media sosial berkontribusi nyata untuk kemanusiaan. Kepedulian kita akan sangat berarti bagi orang lain.

Sungguh ... Membaca buku ini seperti menampar saya, memaksa saya untuk melihat ke masa lalu sebagai pelajaran untuk memberikan contoh untuk anak-anak yang mulai remaja.  

Sumber : Buku Cakap Bermedia Sosial (Cerdas-Kreatif-Produktif)

1 komentar:

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih