Senin, 01 Februari 2016

Menjadi newbie

Sebenarnya saya masih agak ragu untuk kembali aktif berorganisasi dimana keluarga saya bernaung. Saya merasa sudah cukup saya mengaktualisasikan diri di komunitas menulis yang saya ikuti mulai dari tahun 2013 yaitu IIDN. Saya merasa IIDN adalah rumah saya, baik dalam berkarya maupun berkelompok. Dan saya memang sangat menikmati 'gokil bareng' bersama sahabat-sahabat saya di IIDN. Wadah dimana kami saling support untuk melakukan hal-hal terbaik dan berusaha bermanfaat untuk orang lain.

Awalnya Ibuk almh yang aktif di Aisyiyah. Beberapa tahun lalu pernah ada yang berkata bahwa saya kurang cocok untuk aktif di Aisyiyah. Kata beliau, " Kamu akan kesulitan mengikuti ritme ibu-ibu sepuh di sana. Kamu yang terbiasa bergerak cepat dan dinamis pasti akan bosan mengikuti kegiatan ibu-ibu yang kebanyakan sudah pensiunan dan nggak terlalu banyak aktivitas. Lebih baik kamu aktif di FKMM saja. Kamu akan berkembang nantinya."

Dan memang, saya sama sekali tak bersentuhan dengan anak organisasi dibawah payung Muhammadiyah itu. Selain merasa belum jadi warga Muhammadiyah beneran karena nggak punya NBM :) , saya juga ngerasa belum saatnya bergabung di sana. Masih banyak tempat untuk saya berkelompok yang satu visi dengan saya. Apalagi ada beberapa hal yang membuat saya akhirnya benar-benar menjauh dari aktivitas organisasi itu. Sampai kemudian Ibuk almh meninggal.


Dari tahun lalu, saya dibujuk Bu Indah untuk aktif menjadi pengurus. Dan saya masih enggan untuk mengiyakan. Banyak hal yang menjadi pertimbangan saya. Salah satunya adalah kenyamanan saya. Bisakah saya bergabung di sana? Apakah nanti saya malah seperti anak ayam kehilangan induknya, alias kilang kilong, begitu dalam Bahasa Jawa.

Januari 2016, rayuan maut Bu Indah berbuah. Saya mengiyakan saja ajakan Bu Indah saat menerima undangan rapat pengurus. Meski saya ragu. Meski sebelah hati saya enggan. Ada semacam pertahanan dalam diri saya yang membuat barikade saat saya benar-benar datang dalam pertemuan itu. Dalam satu wadah yang sebagian besar sepantaran dengan ibu almh, saya menjadi 'anak muda' di dalamnya.

Sebuah sambutan hangat membuat kekakuan saya sedikit mencair. Sebuah chat WA mbak Bina, salah satu sahabat saya menyapa. 
"Welcome to the club, sist..."
Juga sapaan dari Bu Amin, ketua ranting, yang merupakan teman lama ibu saya yang mengharapkan saya meneruskan perjuangan Ibuk almh di Aisyiyah. Dan beberapa wajah yang kemudian menyapa saya hangat saat tahu bahwa saya adalah putri Ibuk. Dan ketika dalam pertemuan itu membahas tentang sebuah event yang akan dilaksanakan dua minggu kemudian, saya langsung ditunjuk menjadi sie dokumentasi. Saya garuk-garuk kepala. Rasanya saya lama sekali nggak pegang kamera.  Ya sudahlah, daripada kelamaan nyari personel yang sanggup, akhirnya saya pun mengiyakan tugas itu.

Saya benar-benar merasa lost generation saat acara berlangsung. Saya kadang mojok sendiri memegang kamera. Sesekali ngobrol dengan suami via BBM. Namun saya berusaha untuk bertahan dengan apa yang sedang saya lakukan. Sedang berlangsung. Apalagi melihat para ibu sepuh yang semangat menghadiri acara tersebut.

Ah ... ya, itu adalah bagian dari hiburan para ibu sepuh dalam menikmati sisa hidup. Supaya beliau-beliau ini merasa menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Merasa berharga telah melakukan sesuatu untuk umat. Dan memang, setiap manusia selalu butuh untuk dihargai bukan?

Sempat tertohok juga dengan khotbah iftitah yang disampaikan oleh ketua Ranting Muhammadiyah tentang sebuah keikhlasan. Bahwasanya ikhlas itu akan membuat ringan hati kita. Tak perlu meminta 'dipandang' oleh orang lain ketika kita melakukan sebuah kebaikan. Karena keikhlasan kita sudah dicatat oleh malaikat yang bertugas membuat coretan amal-amal kita.

Saya pun mulai menikmati membawakan tas atau snack ibu-ibu sepuh yang naik tangga. Memberikan uluran tangan ketika mereka turun tangga. Dan senang ketika melihat senyum-senyum tulus menghias bibir mereka sambil mengucap terima kasih.

Benar, saya ikhlas menjadi newbie. Bahkan untuk ukuran emak senarsis saya ikhlas tak ada wajah saya dalam sebuah foto pun ketika berlangsung acara. 

6 komentar:

  1. Selamat menekuninya ya Nyah. Pasti banyak hikmahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih Uni, Insya Allah

      Hapus
  2. hahahaa....saluuutttt ikhlasnya tanpa narsisss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah ... perjuangan buat ikhlas seikhlas ikhlasnya ituh hahaha

      Hapus
  3. Ternyata ... di mana-mana ada yang namanya Indah *salah fokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama yang pernah dilaunching coca cola ya :D

      Hapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih