Poligami, surga yang sering disalahpahami - Jurnal Hati

Rabu, 28 Oktober 2015

Poligami, surga yang sering disalahpahami

Kemarin sempet rame ya, tentang postingan seorang muslimah yang mengunggah curahan hatinya di youtube? Muslimah yang usianya belum genap tiga puluh tahun, tapi sudah diberikan ujian yang cukup berat oleh Allah dengan suami berpoligami. Banyak yang simpati, namun juga banyak yang menghujat. Ada yang menyayangkan kenapa juga harus mengumbar aib keluarga, kalau mau curhat ya sama Allah saja. Begitu beberapa komentar yang saya lihat di unggahan itu. Komentar yang mencapai angka seribu lebih. 

Dia tidak berkata-kata, namun hanya tulisan yang ia tulis di kertas dan ditunjukkan kepada audiens. Beberapa tahun yang lalu, saya melihat sebuah unggahan dengan model yang sama dari gadis di belahan eropa sana, Sebuah curahan hati seorang remaja usia lima belas tahun yang dibully oleh teman-temannya karena seseorang mengunggah foto atau video dia yang topless. Dan tak lama setelah mengunggah curahan hatinya, sang gadis kemudian bunuh diri.


Kembali pada muslimah yang mengunggah curhatnya sekitar sembilan hari yang lalu. Saya melihat ketidakberdayaan di mata muslimah itu. Saya bisa memahami rasa sakit yang ia punya. Saya bisa mengerti kemarahannya. Namun saya tak mengalaminya. Saya tak merasakan seberapa dalam luka itu tertoreh. Saya tak merasakan berapa banyak air mata yang sudah meleleh di depan sang Pencipta. Dan seberapa kesabaran yang masih tersisa. 

Mudah bagi orang lain untuk berkomentar, menghujat, dan menghakimi bahwa mengunggah hal itu tak pantas dilakukan. Namun seandainya mereka berada di tempat yang sama, akankah ia mampu berkomentar hal yang sama? Jangankan melakoni, membayangkan saja saya tak mampu. Itu terbukti ketika saat ini saya menulis naskah novel bertema poligami, saya sungguh kesulitan. Novel yang biasanya sebulan  sudah bisa kerjain sampai setengahnya, untuk naskah yang satu ini sebulan saya masih nyari-nyari narasumber. Dan malangnya saya, ketika teman-teman saya yang dipoligami saya hubungi, mereka sensitif banget, menganggap bahwa ini tak pantas untuk diceritakan. Kalau diceritakan hanya akan menjadi aib. Waduh ...

Saya bertanya pada seorang ustad, pengajar di sebuah universitas di Jogja. Beliau mengatakan betapa laki-laki sering salah memaknai ayat di Al Quran. Sebuah ayat yang sering dimaknai sebagai ayat yang membolehkan berpoligami. QS Annisa 3. Ayat ini tak bisa hanya ditafsirkan sendiri, namun tasirkanlah QS Annisa 2 -6. Ayat ini terkait dengan pemeliharaan anak yatim. 

Poligami atau monogami masuk dalam hukum Wadh'i, Allah tidak langsung memberikan perintah atau larangan. Hukum Wadh'i adalah hukum bersyarat. Hukum asal dari pernikahan adalah satu, atau monogami. Awalnya, Rasulullah menikah dengan Khadijah saja, Dan ketika Rasulullah melakukan poligami, ada syarat yang terpenuhi. Hal itu terlihat dari background Ummahatul Mukminin yang kemudian dinikahi oleh Rasulullah.

Poligami adalah sebuah pintu darurat. Dan tak sembarang laki-laki bisa membuka pintu darurat tersebut. Apakah pintu darurat itu memberikan manfaat pada sebuah keluarga? Atau hanya akan banyak memberikan madharat? 

Semoga Allah merahmati apapun yang kita pilih. Juga untuk surga, yang banyak disalahpahami oleh laki-laki. 

4 komentar:

  1. Yg sering disalahpahami adalah karena poligami kadang diawali dgn perselingkuhan dulu. Dua kasus poligami yg aku tau kyk gitu, dan akhirnya semua berujung perceraian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia mbak Diba, kalau nafsu yang menjadi alasan dari poligami, sakinah mawaddah warrahmah nya semakin jauh dari jangkauan

      Hapus
  2. memahaminya pun tidak bisa dari satu sisi karena jika hanya satu sisi maka akan ada pihak yang "tersakiti"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Fen, dan kita yang berada di sisi perempuan tetap lah yang paling berat untuk melakoninya. Karena Allah pun sudah mengatakan bahwa laki-laki takkan bisa berlaku adil. Kayaknya diiming-imingi pahala seberapapun kayaknya kita tetep ga mau yo Fen? Hehehe

      Hapus

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih