Senin, 16 Februari 2015

Cherish You, ketika hati menemukan rumahnya

Prolog

Laki-laki itu sudah tak sabar bertemu seseorang. Dia mempercepat langkahnya memasuki Ambarukmo Plaza setelah memarkir mobilnya di basement. Kacamata hitam yang tadi dia pakai pun ia masukkan ke dalam saku bajunya.
Dia terlihat lebih santai dari biasanya. Biasanya dia memakai kemeja dan vest sebagai seragam kebesarannya. Namun kali ini, dia santai sekali dengan T-shirt lengan panjang berwarna abu-abu muda dipadu dengan jeans warna gelapnya. Dia sedang tak ingin memberi kesan apapun pada seseorang yang dia temui. Dia ingin tampil apa adanya.

Dia menjadi pemilik dari sebuah advertising agency sekarang. Maunya sih full service. Namun pekerjaan-pekerjaan yang masuk ke kantornya kebanyakan event off air. Kantornya sih kecil. Karyawannya pun hanya lima orang. Namun dia percaya diri dengan kemampuannya. Toh selama ini perusahaan-perusahaan besar di Jakarta mempercayakan eventnya di Jogja pada Advertising Agencynya.

Ia menuju House of Balcony dimana seseorang itu telah menunggunya. Sampailah ia di depan cafe tersebut. Sempat celingukan sebentar, dan yang dicarinya melambaikan tangan dengan senyumnya yang mengembang ceria.