Prolog The Beloved Aisyah - Jurnal Hati

Senin, 03 November 2014

Prolog The Beloved Aisyah

PROLOG

“Aisyah, sungguh aku tidak pernah merasa sesakit ini...”

Andai rasa sakit itu bisa dipindahkan, aku ingin menanggung rasa yang ia derita. Aku ingin bersamanya menerima rasa yang Alloh berikan padanya. Namun aku bisa apa? Ini belum waktuku untuk menerima rasa sakit itu. Setiap manusia pada saatnya akan merasakannya.

Aku hanya bisa memeluknya. Memberikan rasa nyaman di saat terakhirnya. Menyentuh kulitnya. Aku merasakan tarikan nafasnya. Manusia pilihan Alloh ini sedang menjalani takdirnya.

Kulepaskan pelukanku, namun aku menggantinya dengan mengangkat kepalanya dan kuletakkan di pahaku. Ia menatapku, sejurus kemudian menggeleng saat melihat kedua mataku berkabut.

Ya...aku tahu, ia tak ingin aku menangis melepas kepergiannya. Ia menginginkanku tegar, seperti bebatuan di padang pasir yang tak goyah saat badai.

Tetaplah aku tak mampu menahan air mataku. Menatap matanya yang bening, senyumnya yang karismatik, tulus hendak bertemu dengan Sang Pencipta. Rasa kehilangan itu sudah tampak di depan mata. Aku memalingkan wajahku saat bulir-bulir air menetes dari kelopak mataku. Tangannya menyentuh pipiku. Ia pun mengusap lembut air yang menetes itu. Kuciumi jemarinya dengan sepenuh hati.



“Aku mencintaimu, Ya Rasulullah,” isakku.
Ia tersenyum, menatapku dengan balur cinta yang luar biasa di matanya.

“Kau tahu perasaanku padamu, Ya bintushshidiq ... Kau perempuan pilihan Alloh untukku. Aku mencintaimu.”

Bisikannya, sangat jelas di telingaku. Angin surga telah ditiupkannya untukku. Tangannya melemah. Kemudian ia bersedekap.

“Laa Ilaaha Ilaallah....”
Ia mengucapkannya dengan sangat tenang. Jelas.
Sudah tak terpancar lagi rasa sakit di wajahnya.

Angin bertiup begitu pelan. Sepertinya malaikat Izrail telah datang menjemputnya. Ia kembali tersenyum. Senyum terikhlas yang pernah kulihat. Dan aku merasa memang kini saatnya telah tiba.
Ia telah meninggalkanku untuk selama-lamanya.

1 komentar:

Mohon tidak meninggalkan link hidup di komentar ya? Terima kasih