Senin, 03 November 2014

Prolog The Beloved Aisyah

PROLOG

“Aisyah, sungguh aku tidak pernah merasa sesakit ini...”

Andai rasa sakit itu bisa dipindahkan, aku ingin menanggung rasa yang ia derita. Aku ingin bersamanya menerima rasa yang Alloh berikan padanya. Namun aku bisa apa? Ini belum waktuku untuk menerima rasa sakit itu. Setiap manusia pada saatnya akan merasakannya.

Aku hanya bisa memeluknya. Memberikan rasa nyaman di saat terakhirnya. Menyentuh kulitnya. Aku merasakan tarikan nafasnya. Manusia pilihan Alloh ini sedang menjalani takdirnya.

Kulepaskan pelukanku, namun aku menggantinya dengan mengangkat kepalanya dan kuletakkan di pahaku. Ia menatapku, sejurus kemudian menggeleng saat melihat kedua mataku berkabut.

Ya...aku tahu, ia tak ingin aku menangis melepas kepergiannya. Ia menginginkanku tegar, seperti bebatuan di padang pasir yang tak goyah saat badai.

Tetaplah aku tak mampu menahan air mataku. Menatap matanya yang bening, senyumnya yang karismatik, tulus hendak bertemu dengan Sang Pencipta. Rasa kehilangan itu sudah tampak di depan mata. Aku memalingkan wajahku saat bulir-bulir air menetes dari kelopak mataku. Tangannya menyentuh pipiku. Ia pun mengusap lembut air yang menetes itu. Kuciumi jemarinya dengan sepenuh hati.

Senin, 27 Oktober 2014

Menggantung Cita-Cita episode 2

Pengen ngelanjutin yang tempo hari saya tulis di judul yang sama, menggantung cita-cita. Saya inget banget, belajar nulis via online. Waktu itu ada audisi workshop menulis tulisan inspiratif yang diadakan oleh mbak-mbak kece, Mbak Wylvera Windiyana, Mbak Fita Chakra, Mbak Dyah Rini, dan Mbak Haya Aliya Zaki. Semangat banget saya ngikutinnya. Gimana nggak semangat, tumben banget ada workshop gretongan. Dan saya berasa pede sangat bahwa tulisan saya bagus banget. Secara di note Fb selalu panen jempol. Tapi ternyata, tulisan saya nggak ada apa-apanya dibandingkan temen-temen lainnya. Setiap tugas yang diberikan, teman-teman saya bergiliran jadi tulisan terbaik dan ngedapetin hadiah. Dan saya... panen kritik. Gemes banget, nggak bisa ngedapetin hadiah. Tapi saya dapet banyak banget pelajaran. Bahwa menulis itu nggak segampang yang saya kira. Menulis itu dengan hati. Jangan pernah berpuas hati membaca tulisan kita. Kadang berasa sombong, tulisan kita pasti disukai banyak orang, padahal banyak juga yang beda selera sama kita.

Dari workshop sebulan itu, saya nongkrongin komunitas-komunitas online, meski cuman sekedar silent reader. Tapi saya mulai banyak belajar dari situ. Mulailah saya ikut audisi antologi-antologi yang banyak bertebaran di dunia maya. Dan alhamdulillah lolos. Namun saat saya lolos audisi antologi yang ketiga, saya nggak ngerasa spesial lagi. Saya pengen banget punya buku solo.

Senin, 13 Oktober 2014

Menggantung cita-cita

Gantungkan cita-citamu setinggi langit.
Benarkah kita harus menggantung cita-cita setinggi langit? Kalau cita-cita digantungkan di langit. apakah kita bisa meraih cita-cita itu? Bukankah kita hanya bisa memandang di langit tanpa punya kemampuan untuk meraihnya?
Saya ingat kata-kata ibuk. Nek duwe gegayuhan kui rasah keduwuren. Mengko isane ndangak thok. Gegayuhan kui yo paling ora ngukur kemampuanmu. Nek ketoke angel yo tinggal. Gegayuhan kui sing realistis. Artinya kurang lebih begini. Jika kamu punya cita-cita, jangan tinggi-tinggi. Nanti bisanya menatap ke atas terus. Cita-cita itu setidaknya diukur dengan kemampuanmu. Kalau sekiranya susah ya tinggal aja. Cita-cita itu yang realistis saja.

Saya dulu sebel sekali saat ibuk bilang begitu. Rasanya saya nggak boleh jadi orang besar. Rasanya saya kayak nggak boleh jadi orang sukses. Tentu saja saat itu saya mendebat kata-kata ibuk dengan kalimat yang lebih panjang. Saya jadi debat kusir dengan ibuk, seperti biasanya berakhir dengan nada suara yang naik beroktaf-oktaf.

Setelah saya nggak kerja lagi, saya pengen banget punya usaha ini itu. Pengen punya toko baju, pengen punya toko buku, wuah... pokoknya segala macem usaha saya coba. Dan semuanya gagal. Namun ada hikmahnya juga dengan semua kegagalan saya. Saya memang susah jualan baju, karena saya juga nggak apdet dengan segala model baju yang sekarang lagi trend. Toko buku saya bangkrut, tapi setidaknya saya masih bisa jadi agen buku anak. Beberapa PAUD di daerah saya nggak pernah beli buku ke toko buku, tinggal telpon saya beres sudah. Saya juga bisa nambah katalog saya dengan katalog APE.

Jumat, 12 September 2014

Masih tentangnya ...

Ini masih tentang dia. Tentang perasaan rindu yang membuncah. Tentang keinginan-keinginan yang tak tersampaikan. Tentang keikhlasan yang yang masih timbul tenggelam datangnya. Tentang pertanyaan-pertanyaan mengapa aku harus kehilangan dua orang tuaku sekarang.

Bapak pergi di umurku yang ke 23. Adikku umur 18 tahun dan 15 tahun saat mereka harus kehilangan Bapak. Masa-masa dimana kami harus prihatin seprihatin-prihatinnya. Aku masih skripsi, Dik Nisa sedang mulai masuk kuliah, dan Dik Rahma sedang mulai SMA. Semua membutuhkan biaya. Dan Ibu sendirian mencari biaya sekolah untuk kami.

Tanpa punya penghasilan. Hanya mengandalkan pensiunan bapak. Berhutang kesana kemari. Gali lobang tutup lobang. Dan Ibu tak pernah meminta tolong pada siapapun. Sendirian mencoba membesarkan kami. Tanpa tangis. Tanpa merendahkan diri.

Ibu tak pernah mengucapkan kata sayang atau cinta. Aku pun jarang dipeluknya. Jarang ia mengucapkan kata dengan lemah lembut. Serba lugas. Tanpa basa basi. Namun tulus. Dan sebuah ketulusan itu tak pernah dikatakan bukan? Kadang aku merasa Ibu terlalu keras. Tapi sekarang aku tau mengapa ia tak pernah berlemah lembut. Ia ingin aku kuat. Itu keyakinanku.

Senin, 08 September 2014

Selalu ada senyum dalam sebuah kesedihan

Dia telah pergi. Dan tak akan kembali. Untuk awal dari perjalanan. Perjalanan menuju keabadian. Dia telah bahagia. Dia berada di sisi Sang Pencipta. Tapi aku di sini, masih selalu menggulirkan air mata. Untuk sebuah kenangan. Kenangan yang terpahat seumur hidupku.

Akankah di sana ia mengenangku? Akankah di sana ia merindukanku?
Bayangannya tak mau hilang dari mataku. Senyumnya, cara berjalannya, cara bicaranya. Dan sungguh ... aku masih teringat ekspresinya di hari-hari terakhirnya.

Aku kehilangan.
Aku pernah merasakan kehilangan. Tapi tidak sesakit ini. Aku pernah merasa hampa, tapi tidak sekosong ini. Tak pernah aku menatap nanar pada sesuatu yang mengingatkanku padanya. Tak pernah ...

Takkan ada yang sama setelah ia berlalu. Semua akan terasa berbeda. Dan di hati ini, penyesalan masih terus bertalu. Orang lain mungkin akan mudah untuk mengatakan sebuah kata ikhlas. Sementara aku, masih tak mampu untuk melakukan itu.

Senin, 01 September 2014

Untukmu, Ibu

Aku tau dia mencintaiku. Cinta yang tumpah ruah untukku. Cinta yang kadang menyakitkan. Cinta yang sering menyesakkan. Cinta yang membangkitkan amarah. Namun sebenarnya cintanya tanpa pamrih. Cinta sepanjang masa. Cinta yang paling tulus dan tak mungkin terganti.

Dia yang kini terbaring dengan selang-selang yang tergantung di sekitarnya. Diam, tak berdaya. Sungguh, aku merindukan suaranya. Aku merindukan ia bersuara. Ia yang dulu tak pernah berhenti bercerita. Dia yang selalu banyak bicara. Dia yang selalu ingin aku dengarkan. Namun aku sering tak memperdulikan apa yang ia katakan. Karena aku merasa capek untuk mendengarkan.

Sekarang giliranku yang berbicara. Aku kini yang selalu bercerita di telinganya. Apa kegiatanku hari itu, apa yang akan kulakukan untuknya. Aku melafalkan asma Allah di telinganya semampuku, mengajaknya berdzikir. Aku juga selalu menyampaikan padanya siapa yang datang ingin melangitkan doa. Apa yang aku lakukan, takkan mungkin bisa mengganti cinta yang selalu ia ulurkan untukku.

Aku tau dia mendengarku. Ketika aku melafalkan asma Allah, kadang setitik air mata bergulir dari matanya yang terpejam. Dari nafasnya yang saat ini memberat, aku tau ia menarik nafasnya seirama dengan lafal Allah yang aku lantunkan. Ini menjadi satu kolaborasi yang luar biasa. Suaraku dan tarikan nafasnya.

Aku hanya bisa menyesali kini. Ketika ia masih mampu melengkingkan suaranya, aku kadang meresponnya dengan tak semestinya. Ketika ia masih mampu memberikan cintanya, aku sering tak menerima dengan keikhlasanku. Aku sebenarnya sangat tahu bahwa itu karena cinta. Tapi aku yang merasa bukan anak-anak ini memahami dari sisi yang selalu berbeda.

Kamis, 14 Agustus 2014

Peluk untukmu anakku ...

Bismillahirrahmanirrahiim..
Kali ini aku mengawali tulisanku dengan bacaan basmallah. Karena aku ingin apa yang aku tulis bukanlah ledakan emosi semata atau rasa benci. Tidak. Aku menuliskan ini dengan pikiran jernih dan pertimbangan yang matang. Aku memilih untuk menulis di rumah mayaku ini sebagai katarsis untuk mengalirkan rasa yang terasa menyesakkan.

Aku sering membaca kasus kekerasan yang dialami anak di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru maupun sesama siswa. Aku merasa gemas, namun bisa mengerti, tak mungkin pihak sekolah mampu mengawasi anak satu persatu. Bukan berarti aku bisa mengerti jika ada pendidik yang melakukan kekerasan pada muridnya. Meski beban pendidik seberapa besar sulitnya. Seorang guru harus mempunyai anger management yang baik untuk mengatasi polah tingkah anak-anak. Karena setiap anak itu istimewa. Lagipula, ketika seseorang sudah memilih menjadi pendidik, menurutku ia sudah memilih untuk mempunyai kesabaran tingkat dewa.

Hari Selasa yang lalu. Aku diberitahukan seseorang tentang kekerasan yang dialami anakku. Aku tak yakin akan hal itu, karena Lilo sama sekali tak bercerita. Namun sejujurnya ada selintas kekhawatiran akan kebenaran tentang hal itu. Ada sedikit perubahan tingkah lakunya. Namun aku menepis pikiran buruk itu. Lilo tidak cerita. Biasanya, apapun yang terjadi di sekolah ia akan bercerita. Bahkan sampai kesalahannya pun ia bercerita.

Minggu, 10 Agustus 2014

Tanya hati

Lagi marak nih istilah jilboobs. Ga perlu dijabarin lagi lah ya, kita semua udah tau apa artinya. Apalagi sering tuh, muncul di timeline fb kita tentang teman-teman kita yang nulis status, update foto, atau share link tentang jilboobs. Bahkan sekilas, aku juga pernah lihat ada buku yang ngomongin tentang itu.

Bukannya aku tak setuju dengan apa yang sudah wara wiri di timeline ku. Namun juga sebuah pertanyaan yang muncul di hati kita. Dalam agama kita, Agama Islam memang setiap umatnya diwajibkan untuk menyampaikan dakwah kepada orang lain walaupun hanya satu ayat. Dan buatku, berdakwah kan tak cuman bi lisan, tapi juga bil hal dimana kita berdakwah melalui perilaku kita sehari-hari. Dan mungkin juga, aku belum layak juga untuk berdakwah karena perilakuku pun masih sangat jauh dari sempurna. Hanya saja, setiap manusia selalu ingin menjadi yang lebih baik bukan?

Aku juga bukan manusia yang sempurna meski aku sudah memakai jilbab dan mengulurnya sampai dada. Aku juga masih jauh dari kata syar'i ketika saat ini aku sedang belajar memakai rok untuk keseharianku. Aku sedang belajar mengenakan gamis saat aku menghadiri taklim atau ke masjid untuk beribadah. Aku sedang berusaha menjadi manusia baik, terutama untuk diriku sendiri.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Pokoknya tulis aja...

sumber gambar www.langevin.com
Bulan Syawal baru juga seminggu. Tapi kayaknya udah cukuplah saya bergembira di Idul Fitri kemarin. Saya rasanya udah pegel liburan melulu. Pegel badan dan pegel dompet tentunya. Sudah saatnya nih kudu ngisi pundi-pundi yang kemarin terkuras habis karena ada pengeluaran-pengeluaran tak terduga, misalnya, tiba-tiba mobil macet dan tuinggg... ngeluarin ATM lagi.


Senin, 07 Juli 2014

Krucils emak blogger itu ...

Udah lama aku niat banget ndandanin blog yang udah lama kurang terurus. Ibarat rumah, blog ku ini cat dindingnya udah kusam banget, rumput-rumput udah tinggi perlu dicabutin, dan perlu ada usaha dari si empunya rumah buat ngebikin orang mau berkunjung silaturahmi. Kemarin sempet stalking aja nih sama grup emak-emak rempong yang mau ngumpul. Katanya sih mau diskusi buku sama belajar nge-blog. Kebetulan lagi njemput anak-anak ke rumah Eyang di Semarang, jadilah pagi itu begitu bangun tidur yang keinget mau cap cus ke Mak Uniek.
sumber gambar www.lavengin.com